detikNews
2019/11/08 15:43:58 WIB

Luas Situs Kumitir Ditaksir 16 Hektare, Ekskavasi Gandeng Perguruan Tinggi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Halaman 1 dari 2
Luas Situs Kumitir Ditaksir 16 Hektare, Ekskavasi Gandeng Perguruan Tinggi Luas Situs Kumitir Ditaksir 16 Hektare (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto - Luasan situs Kumitir di Mojokerto diperkirakan mencapai 16 hektare. Banyak struktur purbakala diyakini tempat pendharmaan 2 raja Singosari masih terpendam di situs ini. Ekskavasi skala besar pun akan digelar tahun depan melibatkan sejumlah perguruan tinggi.

"Potensinya sangat tinggi karena berdasarkan Negarakertagama dan Pararaton ini tempat pendharmaan Raja Singosari, Mahesa Cempaka mendampingi Wisnu Wardhana. Nah ini yang mau kami ungkap," kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Fitra Arda kepada wartawan saat meninjau situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto, Jumat (8/11/2019).

Fitra memperkirakan luasan situs Kumitir mencapai 16 hektare. Namun selama 10 hari ekskavasi, yaitu 21-30 Oktober 2019, para arkeolog baru menemukan talud kuno sepanjang 100 meter. Struktur tembok penguat tanah dari susunan bata merah ini mempunyai ketebalan 140 cm dengan tinggi lebih dari 120 cm.


Tembok yang sudah digali merupakan bagian timur dari talud. Sementara tembok sisi barat, selatan dan utara sampai saat ini belum ditemukan. Talud ini diyakini mengelilingi sebuah kompleks bangunan suci yang sudah berdiri sejak zaman Kerajaan Singosari.

Berdasarkan naskah Nergarakertagama dan Pararaton, Kumitir menjadi tempat pendharmaan 2 raja Singosari, yaitu Mahesa Cempaka dan Wisnu Wardhana. Mahesa merupakan putra Ken Arok dan Ken Dedes. Dia juga kakek dari Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Sedangkan Wisnu Wardhana putra dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes.

Raja Mahesa wafat pada 1286 masehi. Untuk mengenang kematiannya, dibangunlah kompleks tempat suci di Desa Kumitir. Selain sebagai monumen untuk mengenang Raja Mahesa, bangunan suci tersebut sekaligus menjadi tempat pemujaan. Bangunan suci itu lantas dipugar dan difungsikan kembali pada masa Raja Majapahit Hayam Wuruk.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com