Baik saat musim kemarau maupun musim hujan, Bandara Juanda kerap kedatangan beberapa jenis burung yang sedang mencari makanan. Yakni di areal rumput atau pond sisi runway.
Legal and Section Communication Head PT Angkasa Pura I Juanda Surabaya Yuristo Ardi Hanggoro mengatakan, untuk mencegah terjadinya bird strike, patroli rutin terus dilakukan. Baik saat banyak burung maupun tidak.
"Patroli bird strike kami lakukan secara rutin. Baik ada atau tidaknya peningkatan pergerakan burung di sisi udara di Bandara Juanda," kata Yuristo kepada detikcom saat melakukan patroli di runway Bandara Juanda, Rabu (30/10/2019).
Menurutnya, bird strike dapat mengakibatkan gangguan serius terhadap aktivitas penerbangan. Bird strike di bandara pada umumnya terjadi saat pesawat lepas landas atau mendarat.
"Walaupun yang tertabrak hanyalah seekor burung saja, akan tetapi ceceran darahnya bisa menutupi windshield dan hal tersebut akan menghalangi pandangan pilot pada saat lepas landas maupun mendarat," tambah Yuristo.
Kemudian jika burung tersebut tersedot mesin pesawat maka dapat merusak bilah dari turbin engine. Periode paling banyak terjadinya bird strike tidak dapat diprediksi. Namun jumlah aktivitas burung akan meningkat pada musim hujan.
"Kami terus melakukan patroli secara rutin enam kali sehari. Dengan menggunakan Bird Strike Car, alat pengusir burung akustik serta Inspeksi Bird Strike & Wild Life oleh ARFF," terang Yuristo.
Lebih lanjut Yuristo menjelaskan, pada 2018 laporan bird strike yang terkonfirmasi sebanyak 5 kasus. Sedangkan jenis burung terbanyak di Juanda yakni Kuntul Kerbau dan Belibis.
"Setiap pergantian shift terdapat tiga petugas yang melakukan pemantauan dan pengusiran terhadap burung-burung liar itu," pungkas Yuristo.
Halaman 2 dari 2











































