Ini Penyebab Ratusan Pelajar MIN 1 Malang Pembawa Difteri

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 26 Okt 2019 14:30 WIB
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Malang (Foto file: Muhammad Aminudin)
Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Malang (Foto file: Muhammad Aminudin)
Malang - Ratusan pelajar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 terindikasi membawa (carrier) difteri. Apa penyebabnya ?

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Supranoto menyatakan, bahwa bakteri Corynebacterium Diphthetiae sebagai cikal bakal difteri sangat memungkinkan masuk dalam tubuh seseorang.

Namun semua dapat dicegah, apabila seseorang itu telah mendapatkan imunisasi lengkap dan berkelanjutan.


"Kuman atau bakteri berpotensi menyebabkan difteri, bisa saja masuk ke dalam tubuh seseorang. Seperti yang ditemukan pada 200 lebih pelajar MIN Malang. Tetapi kalau imunisasinya lengkap dan berkelanjutan, tentunya sudah memiliki kekebalan," beber Supranoto berbincang dengan detikcom melalui sambungan telpon, Sabtu (26/10/2019).

Pergantian musim yang tengah terjadi, lanjut dia, memiliki potensi tinggi masuknya bakteri pembawa difteri masuk ke dalam tubuh seseorang. Hidup bersih merupakan langkah terbaik, agar tidak mudah tertular atau masuknya bakteri dalam tubuh.

"Ini juga musim pancaroba, angin berhembus tidak biasanya. Sangat memudahkan masuknya bakteri dan penularannya. Langkah cepat dengan pengobatan, akan dapat membunuh kuman yang masuk dalam tubuh," bebernya.

Dia mengungkapkan, carrier atau indikasi membawa bakteri penyebab difteri dapat diketahui melalui SWAB. Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari tenggorokan seseorang.

"Dalam waktu 3 hari, metode SWAB ini bisa mengungkap adanya bakteri yang masuk. Jika terlambat, maka akan berpotensi positif difteri. Namun, akan muncul gejala-gejala yang mengikuti sebelumnya. Seperti demam tinggi beberapa hari, batuk dan pilek," ungkapnya.


Pada kasus MIN 1 Malang beberapa pelajar yang menjalani SWAB, ditemukan bakteri dalam tubuhnya. Maka penanganan dengan memberikan obat propilaksi dilakukan.

"Empat sampai hari, obat harus dikonsumsi dan pasien harus istirahat total untuk pemulihan. Setelah itu, dapat dinyatakan bakteri atau kuman sudah benar-benar mati dalam tubuhnya. SWAB kultur dilakukan kembali untuk memastikannya," tandas Supranoto. (fat/fat)