Langit Merah Hebohkan Warga Banyuwangi, Fenomena Apa?

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 25 Okt 2019 19:45 WIB
Langit dan matahari yang berwarna merah (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Warga Kecamatan Sempu dihebohkan dengan pemandangan yang tak wajar dari biasanya. Langit di atas wilayah Sempu berwarna merah. Sinar matahari yang biasanya menyilaukan dan cenderung berwarna cerah di siang hari, berubah menjadi warna jingga kemerah-merahan.

Kejadian itu diamati hari Jumat (25/10/2019) sekira pukul 11.30 WIB hingga 15.00 WIB. Meski redup, namun suhu siang ini tetap terasa panas seperti biasanya, dikisaran 31 derajat celcius.

Fenomena tersebut menyita banyak perhatian warga sekitar. Banyak yang berdebat, fenomena tersebut merupakan pertanda akan adanya gerhana matahari. Sebab sinar matahari mirip dengan lampu buah naga yang dipasang pada malam hari.


"Tadi waktu salat Jumat di masjid, matahari berwarna merah. Sinarnya itu seperti lampu buah naga. Panasnya seperti biasa, tapi merubah pandangan semakin redup hangat, oranye kemerah-merahan," kata Agung Wibisono, warga lingkungan Kampung Baru, Desa Jambewangi kepada wartawan.

Sementara itu Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi Gigih Nurbaskoro mengatakan hal ini sebagai fenomena Mie Scattering. Yakni, adanya partikel yang beterbangan sehingga mengubah fisik dari atmosfir, kemudian partikel berinteraksi di langit, menyebar dan mengubah spektrum warna pada cahaya matahari. Dugaan kuat, partikel itu berasal dari kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Banyuwangi.

"Fenomena ini disebabkan hamburan sinar matahari oleh partikel kecil (aerosol) yang mengapung di udara atau biasa disebut dengan mie scattering. Ini terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," kata Gigih.


Pada intinya, ada semacam asap yang menyelimuti langit. Misalnya saja, asam dampak kebakaran hutan. Sehingga menyebabkan sinar matahari tidak sampai ke bumi dan membuat langit terlihat memerah.

"Tingkat volume asap juga memengaruhi spektrum warna yang dihasilkan. Ada yang terjadi beberapa jam saja, karena asap telah hilang saat ditiup angin. Namun, cahaya ini tidak berbahaya. Hanya saja, asap dampak kebakaran inilah yang berbahaya," kata Gigih.


Simak juga video "Bikin Panik! Langit Jambi Memerah Gegara Kabut Asap" :

[Gambas:Video 20detik]

(iwd/iwd)