detikNews
Selasa 22 Oktober 2019, 15:20 WIB

Polisi Banyuwangi Ajak Santri Bijak Bermedsos

Ardian Fanani - detikNews
Polisi Banyuwangi Ajak Santri Bijak Bermedsos Upacara di Hari Santri/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) menjadi momentum polisi memberikan pesan terhadap pemanfaatan teknologi. Polisi meminta para santri bijak memanfaatkan teknologi khususnya bermedia sosial.

Hal itu diungkapkan Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi kepada ratusan santri dan pengasuh pondok Pesantren, dalam upacara peringatan HSN di Mapolres Banyuwangi, Selasa (22/10/2019).

"Mari lebih bijak dalam bermedia sosial. Santri milenial harus memiliki filter untuk menyaring setiap informasi yang ada," kata kapolres.

Di depan para santri dari Ponpes Mansya'ul Huda Paspan Glagah, Ponpes Nurul Khoiroh Desa Kelir Pekarangan Kalipuro, Ponpes Al-Ahyar Desa Macan Putih Kabat serta Ponpes Darul Furqon Penataban Giri, kapolres Taufik bercerita tentang penetapan HSN.

Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan ini, kemudian merujuk pada tercetusnya "Resolusi Jihad" yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


"Tentunya, hal itu menjadikan santri Indonesia ini sebagai kunci untuk perdamaian dunia. Di mana, isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa, lingkungan pesantren merupakan laboratorium perdamaian," tambahnya.

Menurut Kapolres Taufik, sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan wadah persemaian ajaran Islam rahmatanlilalamin. Yakni, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat ini, sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural.

"Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Ini sangat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia," katanya.

Santri ini, lanjut kapolres, harus tetap berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Mereka juga menggunakan metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu, di pesantren juga diterapkan keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab.

"Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum," katanya.


Mereka juga memiliki sikap khidmah (pengabdian), jelas kapolres, yakni ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial. Etika berbahasa, adab kesopanan dalam bertindak juga ditanamkan di pesantren.

"Mereka diajari merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis," tandasnya.

"Banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati, Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme," tambahnya.

Kapolres juga mengimbau agar para santri belajar dengan baik dan tidak mengikuti aliran agama yang tidak sesuai kaidah ajaran islam sesungguhnya, apalagi menganut faham radikalisme.

"Ingat, jika ada informasi, dicermati dahulu, benar atau salah. Harus di filter dulu sebelum di share," imbaunya.

Terakhir, dirinya juga berpesan agar masyarakat untuk tetap mendukung seluruh program pemerintah. Baik itu pemerintah pusat maupun daerah, serta tetap menjaga situasi kamtibmas.

"Modal utama suatu daerah yang akan maju, yakni apabila masyarakatnya bisa menciptakan situasi kamtibmas. Dimana setiap individu menjadi polisi bagi diri sendiri," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com