Ketua GP Ansor Kecamatan Ngunut, Asrori, mengatakan turnamen sepak bola api tersebut digelar layaknya turnamen futsal maupun sepak bola pada umumnya. Hanya saja bola yang digunakan terbuat dari kelapa kering.
"Kelapa kering tersebut selanjutnya direndam dalam solar kemudian dibakar, saat api menyala itulah bola api dimainkan para peserta," kata Asrori, Selasa (21/10/2019) dininhari.
Setiap grup yang bertanding terdiri dari lima orang. Saat bertanding, para pemain bertelanjang kaki dan tidak diperkenankan menggunakan alas kaki atau sepatu.
"Ini merupakan turnamen yang kedua. Saat ini diikuti oleh 20 grup," imbuhnya.
Gelaran turnamen sepak bola api dilaksanakan di Lapangan Pema Ngunut ini mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat. Warga memadati pinggir lapangan untuk memberikan dukungan bagi tim kesayangannya masing-masing.
Sementara salah seorang pemain sepak bola api, Mohammad Nur Huda mengaku senang bisa ikut dalam turnamen tersebut.
"Karena banyak tenan dan menyambung silaturahmi. Kalau terkait sepak bolanya yang berbeda adalah bahan untuk membuat bola, yakni dari kelapa, makanya kalau ditendang lebih berat," imbuhnya.
Untuk menghindari cidera akibat panasnya bola api, para pemainan membekali diri dengan melumuri kakinya dengan minyak goreng. (fat/fat)











































