detikNews
Senin 14 Oktober 2019, 20:41 WIB

Kebakaran di Gunung Pasuruan Diduga Disengaja, Polisi Diminta Bertindak

Muhajir Arifin - detikNews
Kebakaran di Gunung Pasuruan Diduga Disengaja, Polisi Diminta Bertindak Kebakaran di Gunung Ringgit (Foto: Muhajir Arifin/File)
Pasuruan - Kebakaran bertubi-tubi di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo selama musim kemarau menghabiskan ratusan hektare lahan. Pengelola kawasan menemukan indikasi kuat kebakaran akibat ulah manusia.

"Kalau dugaan kita sih sengaja dibakar. Yang kebakaran di Ringgit (kali) ini juga sama. Yang pasti bukan pekerjaan orang iseng. Kalau orang iseng, ngapain dia jauh-jauh perjalanan naik gunung 4-5 jam cuma untuk bakar, kan gitu ya. Mesti ada motifnya," kata Kasi KPPKH Malang-Pasuruan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Dedi Hadiana, Senin (14/10/2019).

Dedi mengungkapkan bukti-bukti yang ditemukan petugas saat menyisir lokasi bebas kebakaran mengindikasikan kebakaran karena ulah pemburu liar.

"Kalau kita cuman bisa mengatakan dimungkinkan-dimungkinkan saja (ulah pemburu liar). Sekarang dari kepolisian juga belum ada tindakan, sampai sekarang loh ya. Padahal bagaimanapun kan harus dapat (tersangka) karena ini kan disengaja. Dengan adanya indikasi. Kalau di Lereng Welirang itu, di atasnya Trawas itu, waktu kita cek pasca kebakaran bulan September, kami temukan tulang-tulang (rusa) yang rusak karena ditembak, kulitnya juga," terang Dedi.

Pihaknya sudah melaporkan temuan tersebut kepada polisi. Namun hingga detik ini belum terungkap.

"Kita sudah lapor ke Polsek Trawas. Tapi ya gitu. Entah nggak ada tindak lanjut atau berkas-berkas laporan yang kita ajukan dianggap kurang atau bagaimana kita nggak ada informasi lagi. Ya jelas kita sudah lapor," terangnya.


Menurut Dedi, kebakaran yang terjadi di sejumlah lokasi sejak 4 hari lalu, terutama di Gunung Ringgit, penyebabnya diduga kuat sama, perburuan liar. Namun pihaknya belum menemukan bukti sehingga belum melaporkan.

"Termasuk kebakaran yang ini (Ringgit)," tegas Dedi.

Masalah perburuan liar yang menyebabkan kebakaran di kawasan ini juga ditegaskan Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Ahmad Wahyudi. Menurut Wahyudi, para pemburu liar yang menyebabkan kebakaran hutan masih bebas berkeliaran. Pihak Tahura mengaku kesulitan menangkap para pemburu tersebut.

"Belum ada yang ditangkap. Sulit tentunya menangkap. Kawasan Tahura terbuka dan luas, bebas keluar masuk lewat manapun. Ketika kita tahu kebakaran, orangnya mungkin sudah lari. Sangat jauh. Jarak kita ke lokasi kebakaran bisa 5-10 jam," kata Ahmad Wahyudi, Senin (23/9/2019).

Wahyudi mengatakan pihaknya selalu melakukan patroli. Bahkan patroli juga melibatkan personel TNI-Polri. Namun dengan luasan kawasan mencapai 27.800 hektare, petugas gabungan mengalami kesulitan.

"Sekali keliling (patroli) kawasan itu 200 kilo meter lebih," terangnya.


Karena itu, Wahyudi berharap peran aktif masyarakat. Masyarakat diminta ikut menghalau atau melaporkan perburuan liar ke petugas.

"Kami sangat berharap partisipasi masyarakat sebetulnya. Kalau ada aktivitas dari oknum-oknum tak bertanggung jawab masuk tolong segera laporkan ke aparat, lapor ke Tahura lah. Ikut membantu. Tanpa itu kita nggak bisa mencegah seratus persen," ungkap Wahyudi.

Terpisah, Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan mengatakan pihaknya beberapa hari terakhir masih fokus berkoordinasi dengan TNI, Tahura dan relawan dalam upaya pemadaman kebakaran. Selain menerjunkan 27 personel kepolisian, pihaknya juga mengirimkan 120 tabung air untuk pemadaman.

"Soal itu (penyebab kebakaran) kita akan diskusi dengan Tahura. Kita belum sampai ke substansi itu. Nanti kita tindak lanjuti," kata Rofiq, di Mapolres Pasuruan.


Simak juga video "Kebakaran di Kawasan Arjuno-Welirang Terus Membesar" :

[Gambas:Video 20detik]




(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com