Geliat Kampung Bahasa di Kota Mojokerto Kini Tinggal Nama

Geliat Kampung Bahasa di Kota Mojokerto Kini Tinggal Nama

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 09 Okt 2019 07:38 WIB
Geliat Kampung Bahasa di Kota Mojokerto Kini Tinggal Nama
Kampung Bahasa di Kota Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Sejak 2015, nama Kelurahan Pulorejo di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto santer digaungkan sebagai Kampung Bahasa. Bahkan papan penunjuk jalan Kawasan Kampung Bahasa atau Language Village Area bertebaran di kelurahan ini. Namun aktivitas belajar mengajar dan percakapan dalam Bahasa Inggris di kampung ini nyaris tidak ada.

Sebutan Kampung Bahasa bagi Kelurahan Pulorejo sejatinya merujuk pada Bahasa Inggris. Saat detikcom berkunjung ke kampung ini, tidak tampak adanya warga yang berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Hanya ada sejumlah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Bahasa Inggris yang sepi.

Humas Kampung Bahasa Sunaryo mengatakan, gairah kampung bahasa di Pulorejo sempat mencapai puncaknya pada 2017. Saat itu terdapat 12 LBB yang menempati rumah-rumah warga di sepanjang Jalan Raya Pulorejo. Menurut dia, rata-rata setiap LBB mempunyai 30-40 peserta didik dari berbagai kalangan.


"Hanya berjalan sekitar 6-7 bulan. Tahun 2018 berhenti karena tidak ada anggaran dari Pemkot Mojokerto untuk menggaji tutor, menyewa tempat dan membeli peralatan mengajar," kata pria yang akrap disapa Cak Naryo ini kepada wartawan di Pulorejo, Rabu (9/10/2019).

Ia menjelaskan, pembentukan Pulorejo sebagai kampung bahasa sejatinya ingin meniru Kampung Inggris di Pare, Kediri. Setiap orang di kampung ini diharapkan mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Namun, cita-cita itu sampai saat ini jauh dari kata sampai. Kampung Bahasa di Pulorejo justru tinggal nama.

"Posisi sekarang kampung bahasa di Pulorejo belum dibubarkan, tapi tidak aktif. Harapan kami kampung bahasa bisa berjalan lagi," ujar Sunaryo.
Sosok Sri Widarti, Ketua Paguyuban Pulo Bahasa/Sosok Sri Widarti, Ketua Paguyuban Pulo Bahasa/ Foto: Enggran Eko Budianto


Salah seorang pemilik LBB Bahasa Inggris di Pulorejo, Elis Indahyani (39) menuturkan, aktivitas pembelajaran Bahasa Inggris di Pulorejo sempat mencapai momen paling semarak pada 2016. Saat itu terdapat 15 LBB yang berdiri di kelurahan ini untuk mengajarkan Bahasa Inggris kepada warga setempat. Peserta didik pun datang dari usia anak-anak sampai orang dewasa.

"Sekarang yang tersisa 7-8 LBB saja. Semuanya berjalan secara mandiri tanpa bantuan anggaran dari pemerintah," terang perempuan yang kini mempunyai 30 peserta didik ini.

Untuk bisa bertahan, lanjut Elis, dirinya terpaksa menarik iuran dari para peserta didik. Setiap orang dia minta membayar Rp 75 ribu per bulan. Uang itu dia gunakan untuk membeli peralatan mengajar dan menggaji tutor.


"Iuran Rp 75 ribu itu untuk semua mata pelajaran. Jadi, belajar Bahasa Inggris setiap hari Jumat saya gratiskan," ungkapnya.

Ketua Paguyuban Pulo Bahasa Sri Widarti (47) menjelaskan, momen paling bergeliat di kampung bahasa Pulorejo terjadi pada 2016-2017. Karena saat itu masyarakat, Pemkot Mojokerto dan pemilik LBB bersatu. Peran pemerintah saat itu salah satunya dengan membuat even-even gebyar bahasa.

Namun kini hanya 8 LBB yang masih bertahan secara mandiri. Total peserta didik mereka tak lebih dari 60 orang. Mulai dari siswa SD hingga anak kuliahan.

Salah satunya LBB English Study Club yang dikelola sampai saat ini di Jalan Raya Pulorejo No 132. Agar bertahan, karyawan pabrik ini rela merogoh kantong pribadinya Rp 4 juta untuk membayar sewa tempat selama setahun.

"Iuran peserta didik Rp 25 ribu sebulan. Salah satunya untuk menggaji tutor sampai Rp 1 juta sebulan. Apapun kondisinya, alhamdulillah masih eksis," jelasnya.

Hanya saja di tengah kerja kerasnya untuk mempertahankan LBB Bahasa Inggris di Pulorejo, Sri harus menelan pil pahit dari kebijakan Pemkot Mojokerto. Pasalnya, pemerintah Kota Onde-onde memindahkan kampung bahasa ke Kelurahan/Kecamatan Kranggan.


"Ada peralihan gebyar bahasa ke Kranggan. Kami tidak dilibatkan, kenapa perjuangan kami tidak dihargai? Namun kami tetap mengondisikan sebagai kampung bahasa di sini meski dihapus oleh pemerintah," tegasnya.

Bagi Sri, pendidikan Bahasa Inggris bagi warga sangat penting. Karena Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa global saat ini.

"Kedua kami melanjutkan programnya pemerintah (Kampung Bahasa) yang sudah digaungkan. Meski kondisi seperti ini, kami tetap bertahan," cetusnya.

LBB Bahasa Inggris yang masih eksis di Pulorejo/LBB Bahasa Inggris yang masih eksis di Pulorejo/ Foto: Enggran Eko Budianto


Meski saat ini kampung bahasa Pulorejo mati suri, warga masih berharap aktivitas pendidikan Bahasa Inggris kembali digairahkan. Seperti yang dikatakan Sukarti (67), warga Pulorejo yang pernah aktif mengikuti kursus Bahasa Inggris di kampung ini dua tahun yang lalu.

Saat itu dia sempat mengikuti kursus Bahasa Inggris di balai RW 1 Kelurahan Pulorejo setiap Senin. Dia pun senang karena diajari menyebutkan nama perabotan rumah tangga, warna dan angka dalam Bahasa Inggris. Namun pelatihan itu hanya berjalan dua bulan.

"Sebetulnya senang karena menambah pengetahuan. Saya hanya pulusan SMP yang tak kenal Bahasa Inggris. Biarpun tidak fasih, tapi minimal harapannya bisa mengerti Bahasa Inggris. Jadi, kalau ada lagi saya pribadi ingin ikut," pungkasnya.
Halaman 2 dari 3
(fat/fat)
Berita Terkait