9 Bulan, Puluhan ABG Ajukan Dispensasi Nikah Meski Berujung Perceraian

Erliana Riady - detikNews
Selasa, 01 Okt 2019 13:03 WIB
Foto file: Erliana Riady
Blitar - Sebanyak 89 anak baru gede (ABG) mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) Blitar. Faktor kehamilan tidak direncanakan menjadi pemicu mereka harus melangsungkan pernikahan dini. Ironisnya, pasangan anak ini banyak yang berujung perceraian dengan masa pernikahan hanya satu tahun.

Jumlah ini tercatat sejak Januari-September 2019 ini. Mereka yang mengajukan dispensasi nikah, bagi anak lelaki di antara usia 16-17 tahun. Sedangkan yang wanita berusia antara 14-15 tahun.

"Prosentasenya sebanyak 80 persen dari kalangan anak wanita, sisanya yang 20 persen dari anak lelaki," kata Humas PA Blitar, Moh Fadli kepada detikcom di kantornya Jalan Imam Bonjol, Selasa (1/10/2019).

PA Blitar, lanjut dia, mengabulkan permintaan dispensasi nikah demi kemaslahatan warga. Mengingat, kondisi anak wanita sudah hamil dan calon suaminya mau bertanggungjawab perbuatan mereka.


"Kami mengabulkan dispensasi nikah, demi kemaslahatan daripada status hubungan mereka tidak jelas. Status anak dalam kandungannya juga tidak jelas," ungkapnya.

Sesuai UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, batas minimal wanita diperbolehkan menikah adalah diusia 16 tahun. Sedangkan bagi laki laki diusia 19 tahun.

Menurut Fadli, rancangan revisi UU PKS yang akan menetapkan batasan minimal usia menikah 19 tahun bagi laki-laki dan wanita, akan menambah daftar panjang pengajuan dispensasi nikah di pengadilan agama.

"Wong sekarang saja usia 16 bagi wanita sudah menumpuk yang minta dispensasi nikah. Apalagi kalau nanti RUU PKS disahkan, lak tambah banyak numpuknya," tandasnya.


Ironisnya, ABG yang mengajukan dispensasi nikah banyak berujung ke perceraian. Paling lama, pernikahan anak ini hanya berlangsung selama satu tahun. Padahal, ketika mengajukan dispendasi nikah, mereka berjanji didepan hakim tidak akan bercerai dengan pasangannya.

"Ketika bayinya lahir, ternyata suaminya tidak mencukupi secara ekonomi. Jadi mereka dituntut keluarga untuk memutuskan cerai," pungkasnya. (fat/fat)