detikNews
Jumat 13 September 2019, 19:19 WIB

Filosofi Habibie Untuk PT PAL: Berawal dari Akhir, Berakhir di Awal

Amir Baihaqi - detikNews
Filosofi Habibie Untuk PT PAL: Berawal dari Akhir, Berakhir di Awal Habibie saat jadi Dirut PT PAL (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie merupakan inisiator pendiri PT PAL Indonesia. Habibie tercatat pernah memimpin industri perkapalan di Surabaya dari rentang waktu 1980 sampai 1998.

"Bapak Habibie saat itu menjadi direktur pertama di PT PAL. Beliau ini menjabat kurun waktunya sangat lama. Beliau menjabat mulai 1980 sampai 1998. Jadi ada beberapa jabatan rangkap, saya nggak hapal tapi catatan kami sampai 1980 sampai 1998," kata Kepala Divisi Sekretaris PT PAL Rariya Budi Harta kepada detikcom, Jumat (13/9/2019).

Bukan waktu yang singkat, tak heran jika dalam kurun waktu tersebut, Habibie meninggalkan berbagai pondasi inovasi yang kemudian berkembang begitu pesat di PT PAL saat ini. Sebut saja mulai dari inisiasi pembuatan kapal niaga, tanker sampai kapal perang mulai diawali di bawah kepemimpinan Habibie.


Rariya menuturkan ada sebuah filosofi 'berawal dari akhir, dan berakhir di awal' yang pernah disampaikannya kepada seluruh karyawan PT PAL. Filosofi itu kemudian menjadi pegangan pengembangan industri pabrik kapal.

"Filosofi Pak Habibie yang sangat terkenal di PT PAL itu adalah 'berawal dari akhir, dan berakhir di awal' begitu filosofinya beliau. Dalam satu rantai pembangunan kapal, itu awalnya apa saja? Awalnya adalah desain. Akhirnya adalah apa? Akhirnya adalah produk," terang Rariya.


"Itu disampaikan dan itu kita semua di PT PAL sangat memahami filosofi beliau itu. Sejak kapannya saya tidak ingat tapi filosofi itu yang diberikan beliau untuk PT PAL. Artinya dimulai dari akhir, itu PT PAL itu mampu membuat produk waktu dengan assist supervisor dari perusahan-perusahaan yang lebih sustain. Dan berakhir di awal. Berakhir dengan kemandirian desain memiliki kemandirian atau kemampuan membangun industri mendesain industri pertahanan nasional," jelasnya.

Untuk itu, lanjut Rariya, pada awal-awal PT PAL berdiri, ia bermitra dengan perusahaan asing dari Jerman waktu itu. Namun seiring waktu kemudian menjadi 'berakhir di awal' yang kemudian mampu mengembangkan dan membuat sendiri berbagai jenis kapal.

"Makanya, 'berawal di akhir' itu kita mulai membangun kapalnya dahulu dengan bantuan perusahaan Jerman itu. 'Berakhir di awal' itu berakhir di permulaan. Permulaannya apa? Ya desain. Nah, itu sudah terbukti saat ini PT PAL unggulannya adalah KCR (kapal cepat reaksi) 60 yang kemarin diluncurkan. Ini barusan dipesan 2 lagi sama pemerintah. Jadi ada 4 kontrak KCR, 2 KCR pembaharuan dan 2 lagi KCR mulai dari 0," tutur Rariya.


"Dan pembaruan itu pengembangan senjata. Lalu berkembang ada kapal landing platform dock (LPD) itu juga inisiasinya Pak Habibie, kapal sepanjang 125 meter dengan ada fasilitas helikopter di dalamnya. Ada 3 helikopter, ada tank, ada dua kapal helciu di dalamnya juga. Itu semacam kapal induk kecil yang kita sering lihat beritanya LPD itu. Nah itu inisiatornya Pak Habibie," lanjutnya.

Menurut Rariya, dari pengembangan-pengembangan inisiasi yang diawali dari Habibie kemudian mampu membuat kapal selam sendiri. Dan untuk ukuran Asia Tenggara, Indonesia adalah satu-satunya negara yang mampu dan mempunyai fasilitas kapal selam.


"Kemudian kita mengembangkan dan menjadi sampai jadi saat ini. PT PAL which is (yang mana) kalau kita bilang adalah perusahaan pertama di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas kapal selam saat ini," ujarnya.

Meski begitu, sangat disayangkan, belum sempat Habibie melihat perkembangan pesat PT PAL, suami dari Ainun Habibie itu tutup usia.

"Sayangnya, beliau waktu lebaran kemarin menyampaikan ke dirut kami, beliau ingin berkunjung ke PT PAL dan melihat perkembangan PT PAL. Sayang beliau harus tutup usia karena sakit. Tapi kami berkomitmen untuk tetap menjaga warisan beliau dan mengembangkan PT PAL atas nama negara," tuturnya.

Dikatakan Rariya, kemampuan Indonesia yang mampu membuat kapal selam tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab fasilitas atau teknologi tersebut merupakan puncak teknologi tertinggi dalam sebuah teknologi maritim.

"Jadi, sebuah negara yang memiliki fasilitas kapal selam tentu negara itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena apa? Karena negara itu memiliki teknologi tertinggi dalam sebuah teknologi maritim. Jadi teknologi kapal selam itu teknologi puncak dari sebuah transformasi perkapalan," pungkasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com