detikNews
Jumat 13 September 2019, 18:55 WIB

Tradisi Lokal Hingga Mitigasi Bencana Meriahkan Festival Rontek Pacitan 2019

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Tradisi Lokal Hingga Mitigasi Bencana Meriahkan Festival Rontek Pacitan 2019 Peserta Festival Rontek Pacitan 2019 (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Ada yang unik dari gelaran Festival Rontek Pacitan 2019. Demi mencuri perhatian dewan juri, para peserta berlomba menampilkan aneka tampilan. Mulai tema hidup keseharian hingga mitigasi kebencanaan menjadi ikon peserta.

Grup rontek asal Desa Bolosingo, Kecamatan Pacitan membuka event tahunan tersebut. Mengambil nama 'Singo Sembrani', para pemain menyajikan atraksi layaknya hidup keseharian khas pedesaan.

Dimulai dari peragaan bangun tidur. Mereka lalu menyambut datangnya pagi dengan berjalan menuju sawah dan ladang. Di lahan pertanian warga desa digambarkan tengah bercocok tanam. Adegan juga menampilkan saat masa panen tiba.

Meski hanya mengangkat tema-tema sederhana, namun kepiawaian para peserta menyita perhatian penonton. Kebolehan mereka memadukan musik rontek dengan unsur estetika membuat banyak pengunjung terpana.


Bahkan lokasi pemberangkatan di Titik Nol Pacitan, Jala Ahmad Yani telah dipenuhi warga sejak sore hari. Jalur tersebut sengaja ditutup selama 3 hari hingga Sabtu (14/9/2019). Penutupan berlaku sejak pukul 19.00 WIB hingga event selesai digelar pada tengah malam.

Selain mengangkat kisah keseharian, tema bernuansa edukasi juga diselipkan di antara gerak dan lagu. Hal ini seperti disuguhkan grup rontek Sawunggaling, Desa Menadi. Dominan alat musik tradisional, mereka mengingatkan pentingnya memanfaatkan kentongan sebagai bentuk sistem kewaspadaan dini.

Tabuhan alat musik bambu terdengar rancak. Bunyi-bunyian itu berpadu dengan tarian serta fragmen. Semuanya menggambarkan kesiapsiagaan warga menghadapi potensi gangguan keamanan dan ketertiban. Termasuk di antaranya bencana alam.

Pada saat bersamaan, dari atas mobil yang sudah dihias sedemikian rupa terdengar narasi dituturkan sang dalang. Pesan itu menceritakan detail pukulan kentongan lengkap dengan masing-masing artinya. Sebuah bentuk komunikasi tradisional yang telah digunakan turun-temurun.


Bupati Pacitan Indartato mengatakan pemerintah daerah sengaja menjadikan Festival Rontek kalender sebagai tahunan. Selain memiliki kekhasan sebagai nilai lokal, rontek juga mencerminkan harmonisasi. Perbedaan ketukan pada masing-masing instrumen, lanjut Indartato, justru menghasilkan nada yang enak di telinga.

"Saya kira ada filosofi sangat tinggi dari rontek ini. Bahwa perbedaan yang ada justru akan menjadi kekuatan dan harmoni jika dikelola dengan baik," ucap Indartato berbincang dengan detikcom sebelum hadir menyaksikan festival, Jumat (13/9/2019).

Festival Rontek Pacitan 2109 diikuti 36 grup. Mereka berasal dari 12 kecamatan yang ada ditambah seluruh desa dari Kecamatan Kota Pacitan. Kejuaraan memperebutkan kategori 10 penyaji terbaik, 5 penata musik terbaik, dan juara umum.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com