detikNews
Jumat 13 September 2019, 14:23 WIB

Warga Tulungagung Berebut Air Jamasan Tombak Kiai Upas

Adhar Muttaqin - detikNews
Warga Tulungagung Berebut Air Jamasan Tombak Kiai Upas Tradisi Jamasan Tombak Kiai Upas/Foto: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Pemkab Tulungagung menggelar tradisi Jamasan Tombak Kiai Upas, yang merupakan pusaka andalan kabupaten. Usai prosesi, warga setempat saling berebut air jamasan atau air pencucian.

Tradisi jamasan yang jatuh setiap Bulan Suro pada penanggalan Jawa tersebut digelar di Kanjengan Kelurahan Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung. Prosesi diawali dengan kirab Reog Kendang serta air suci yang diambil dari tujuh mata air di wilayah Tulungagung.

Selanjutnya Tombak Kiai Upas dikeluarkan dari lokasi penyimpanan dan dibawa ke panggung jamasan. Salah seorang tokoh adat setempat memimpin prosesi jamasan yang didampingi bupati serta beberapa pejabat kabupaten.


Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengatakan, Kiai Upas merupakan pusaka andalan kabupaten yang merupakan peninggalan dari bupati ke-4 Tulungagung, Pringgo Koesoemo. Dari cerita secara turun-temurun, tombak tersebut memiliki sejumlah kesaktian.

"Ini merupakan pusakanya Tulungagung, dari cerita yang ada pusaka ini dulunya bisa sebagai sarana untuk menghalau para penjajah yang hendak masuk Tulungagung," kata Maryoto, Jumat (13/9/2019).

Selain itu, pusaka berwujud tombak itu pada eranya juga bisa sebagai sarana untuk menghalau bencana banjir di wilayah Tulungagung. Menurutnya, kini pusaka itu telah diserahkan oleh keluarga Pringgo Koesomo kepada pemkab untuk dirawat dan menjadi salah satu benda cagar budaya milik Kabupaten Tulungagung.

"Jamasan ini sudah menjadi agenda rutin dan menjadi tradisi adat di Tulungagung yang digelar setiap bulan Sura. Kebetulan tahun ini bertepatan dengan hari Jumat Legi," ujarnya.

Usai jamasan, prosesi dilanjutkan dengan selamatan bersama yang diikuti oleh ratusan masyarakat serta para tokoh Tulungagung. Aneka sedekah berupa makanan dibagikan kepada seluruh warga yang hadir.


Di sisi lain, usai prosesi jamasan, warga saling berebut air bekas jamasan. Sebagian warga percaya air tersebut memiliki berbagai khasiat.

"Ini untuk cuci muka, saya selaku penganut Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) percaya air ini bisa membuat awet muda dan awet cantik. Saya setiap tahun ikut prosesi ini," kata salah seorang warga, Rindu Rikat.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com