Ini Penyebab Harga Seragam Batik SMPN 2 Jombang Lebih dari Setengah Juta

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 12 Sep 2019 19:21 WIB
Kain seragam batik SMPN 2 Jombang (Enggran Eko Budianto/detikcom)
Kain seragam batik SMPN 2 Jombang (Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jombang - Harga seragam batik di SMPN 2 Jombang dikeluhkan para wali murid lantaran terlalu mahal. Rupanya harga seragam batik di sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya. Lantas apa yang membuat seragam khas sekolah ini mahal?

SMPN 2 Jombang menjual hanya dalam bentuk lembaran kain dengan harga bervariasi, tergantung ukuran dan jenis kelamin. Kain seragam batik untuk siswa putra ukuran M, L, dan XL masing-masing Rp 339 ribu, Rp 415 ribu, dan Rp 450 ribu.


Sedangkan untuk siswa putri ukuran M, L, dan XL adalah Rp 345 ribu, Rp 420 ribu, dan Rp 447 ribu. Setiap setel seragam batik terdiri atas kemeja batik motif daun warna hijau, rompi kotak-kotak, dan bawahan warna hijau.

Harga itu ternyata belum termasuk ongkos jahit. Setiap satu setel seragam batik dikenai biaya Rp 165 ribu. Proses penjahitan seragam khas tersebut diborong oleh beberapa orang tua siswa. Dengan begitu, untuk mendapatkan satu setel seragam batik, setiap orang tua siswa harus merogoh kocek Rp 504-615 ribu.

Ketua Komite SMPN 2 Jombang Bambang Dwijo Pranowo mengatakan kualitas kain seragam batik yang dijual ke siswa tergolong standar. Yang membuatnya mahal, kata dia, adalah subsidi silang bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

"Mahal karena ada subsidi untuk yang tidak mampu. Bagi yang tidak mampu dapat subsidi. Kalau keberatan, tidak wajib pakai seragam batik," kata Bambang kepada wartawan, Kamis (12/9/2019).

Ia berdalih, penjualan kain seragam batik tidak dilakukan oleh pihak SMPN 2 Jombang. "Penjualannya secara langsung. Wali murid membeli langsung ke penjual, tanpa melalui sekolah," ujar Bambang.


Usut punya usut, pengadaan seragam batik diserahkan ke masing-masing sekolah. Corak dan harga seragam batik di setiap sekolah ternyata berbeda-beda.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP di Jombang Alim menegaskan penentuan harga seragam batik di setiap sekolah harus melibatkan komite dan para wali murid.

"Harganya terserah sekolah masing-masing. Karena ini partisipasi masyarakat harus melibatkan komite dan orang tua. Harus ada rapat orang tua dengan komite sekolah ditambah pendampingan dari Tim Saber Pungli," terangnya.

Di SMPN 5 Jombang, misalnya, seragam batik dipatok seharga Rp 220 ribu per setel. Harga tersebut sudah menjadi kesepakatan pihak sekolah, komite, dan para wali murid.

"Kesepakatan Kepala Sekolah, para guru, komite, wali murid tidak ada harga lain, hanya Rp 220 ribu. Kemeja batik dan bawahan warna hitam. Sudah SNI, mutunya bagus," ungkap anggota komite SMPN 5 Jombang, Joko Fatta Rochim.

Kemudian apa yang dikatakan Bambang berbeda dengan pernyataan Koordinator Paguyuban Wali Murid SMPN 2 Jombang, Irwan. Menurut dia, selama ini belum ada siswa yang mendapatkan subsidi untuk membeli seragam batik.


"Kalau ada yang tidak mampu, kami subsidi. Selama ini tidak ada yang ngomong sama sekali sehingga tidak ada yang disubsidi karena kami anggap mampu semua," tandasnya.

Mahalnya harga seragam batik di SMPN 2 Jombang dikeluhkan para wali murid. Mereka menilai harga kain satu setel seragam batik terlalu mahal. Terlebih lagi, harga tersebut ditentukan tanpa lebih dulu mengajak rapat para wali murid. (sun/bdh)