Sertifikat Ini Perdaya Ratusan Korban Investasi Bodong Hingga Rp 7 Miliar

Sertifikat Ini Perdaya Ratusan Korban Investasi Bodong Hingga Rp 7 Miliar

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 12 Sep 2019 15:13 WIB
Sertifikat untuk menarik investor (Foto: Enggran Eko Budianto)
Sertifikat untuk menarik investor (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Bos investasi bodong PT RHS menggunakan sejumlah cara untuk menarik 109 korban dengan nilai investasi mencapai Rp 7 miliar. Salah satunya dengan memberikan sertifikat kepada masing-masing korban. Seperti apa sertifikat tersebut?

Detikcom mendapatkan foto sertifikat dari pengacara korban investasi bodong Tuty Rahayu Laremba. Sertifikat ini milik salah satu korban yang identitasnya sengaja disamarkan.

Pada bagian atas sertifikat terdapat logo perusahaan PT RHS Group dengan alamat Ruko Dermojayan nomor 1, Jalan Raya Kediri-Blitar, Desa Togogan, Kecamatan Srengat, Blitar. Di bagian tengah sertifikat terdapat tanda air lambang Garuda Pancasila. Sementara pojok kanan atas dibubuhi hologram logo perusahaan.

Data yang dicantumkan dalam sertifikat adalah nama, tempat dan tanggal lahir, alamat, serta nilai uang yang diinvestasikan oleh korban. Sementara di bawahnya terdapat 4 poin kontrak investasi. Selain penanam modal, sertifikat ini ditandatangani Direktur Utama Bisham PT RHS Group M Ainur Rofiq lengkap dengan stempel perusahaan dan materai Rp 6 ribu.

Klausul kontrak yang tertera pada sertifikat meliputi bagi hasil 5 persen dari nilai investasi setiap bulan selama 1 tahun, cashback 5 persen setiap belanja di toko-toko grup RHS, santunan kematian Rp 2 juta bagi anggota dan keluarga anggota yang terdaftar di Kartu Keluarga (KK), serta batasan nilai investasi perorangan minimal Rp 2 juta dan maksimal Rp 500 juta.

"109 korban semuanya mendapatkan sertifikat dengan isi yang sama. Ada yang ditandatangani Rofiq, ada juga yang ditandatangani Rofiq dan Dwi (Kepala Cabang PT RHS Mojokerto). Sertifikat para korban ada di kami semua, sudah kami tunjukkan ke polisi," kata Pengacara korban investasi bodong Tuty Rahayu Laremba saat dihubungi detikcom, Kamis (12/9/2019).



Tuty menjelaskan, sertifikat ini menjadi salah satu alat yang digunakan PT RHS untuk meyakinkan para korban. Karena klausul kontrak investasi dalam sertifikat tersebut tidak sepenuhnya bisa diterima oleh para korban. Menurut dia, cashback belanja dan santunan kematian tidak pernah diterima para korban.

"Bagi hasil 5 persen sebagian besar tidak terlaksana. Rata-rata korban hanya diberi bagi hasil 3 kali. Ada yang tidak sama sekali. Ada yang diberi bagi hasil selama setahun supaya menambah modalnya, setelah itu tidak diberi," terangnya.

Sertifikat tersebut memang sempat membuat para korban investasi bodong PT RHS semakin yakin. Seperti yang pernah dirasakan Ricky Wijaya (36), salah seorang korban investasi bodong yang ditunjuk untuk memberi keterangan kepada wartawan.


"Sertifikatnya meyakinkan banget. Kan saya fikir tidak sembarangan untuk membuat sertifikat. Ada hologramnya, nama perusahaannya, tanda tangan Direktur Utama Rofiq sendiri," ungkapnya.

Satu-satunya manfaat yang dia dapatkan dari sertifikat tersebut yaitu bagi hasil 5 persen per bulan. Itu pun Ricky mengaku hanya berjalan selama satu tahun dengan total bagi hasil sekitar Rp 27 juta. Sementara dana yang dia tanamkan di PT RHS Rp 45 juta sampai saat ini tak kembali.


"Total bagi hasil yang saya terima sekitar Rp 27 juta, masih minus uang saya," tegasnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka menilai, sertifikat tersebut sengaja dibuat dengan bentuk eksklusif untuk meyakinkan para korban. Padahal sertifikat dari PT RHS fungsinya tidak lebih dari sekadar kwitansi atau tanda terima penyetoran uang dari korban ke perusahaan.


"Sertifikat itu sebatas pengganti kwitansi," tandasnya.

Para korban investasi bodong ini beramai-ramai melapor ke Polres Mojokerto Kota, Selasa (3/9). Keseluruhan korban mencapai 109 orang dengan nilai kerugian Rp 7 miliar.

Mereka tertarik menanamkan modalnya ke PT RHS karena diiming-imingi bagi hasil 5 persen tiap bulan. Namun, bagi hasil tersebut hanya berjalan beberapa kali saja. Pihak perusahaan kabur bersama uang para korban. (fat/iwd)