detikNews
Selasa 10 September 2019, 17:17 WIB

Pengakuan Bos Investasi Bodong Mojokerto yang Rugikan Korban Hingga Rp 7 M

Enggran Eko Budianto - detikNews
Mojokerto - Pimpinan Cabang PT RHS di Mojokerto berinisial DW diperiksa polisi. Kepada penyidik, dia menyampaikan cara menggaet para investor.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka mengatakan, DW akhirnya menghadiri panggilan penyidik pada Senin (9/9) sore. Pria asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini diperiksa dengan status saksi terlapor.

"Statusnya masih saksi, kami belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Karena kami harus berhati-hati," kata Waroka kepada detikcom di kantornya, Jalan Bhayangkara, Selasa (10/9/2019).

Ia menjelaskan, salah satu materi pemeriksaan terkait cara DW menggaet para investor di Kota dan Kabupaten Mojokerto. Agar mau menanamkan modalnya di PT RHS, DW menjanjikan bagi hasil 5 persen kepada para korban.

Kepala Cabang PT RHS Mojokerto itu lantas memanfaatkan para investor untuk mencari investor baru. Dia diduga memberi imbalan fee 5 persen kepada investor yang berhasil mengajak penanam modal baru.

"Berdasarkan keterangan dia saat diperiksa anggota saya kemarin, pola menggaet nasabah dengan cara berantai," terangnya.


Kini penyidik mendalami aliran dana investasi para korban yang mencapai Rp 7 miliar. Aliran dana tersebut bakal mengungkap semua pihak yang terlibat dalam kasus investasi bodong ini. Selain DW, polisi berencana memeriksa staf di kantor cabang PT RHS.

Saat para investor menyerahkan uangnya, kata Waroka, DW memberikan sertifikat khusus kepada mereka. Sertifikat ini menggantikan kwitansi atau tanda terima penyerahan dana investasi.

"Analisa saya sertifikasi itu untuk memberi kesan eksklusif kepada para korban sehingga korban semakin yakin dengan Investasi tersebut," tandasnya.

Detikcom juga berusaha menelusuri keberadaan DW untuk mengkonfirmasi kasus investasi bodong yang kini menjeratnya. Kami mendatangi alamat kantor cabang PT RHS di Jalan Raya Ijen nomor 44 C, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Namun, kantor tersebut telah disewa orang lain untuk toko olahan ayam.

Kami juga mendatangi rumah DW tidak jauh dari bekas kantor PT RHS. Namun lagi-lagi upaya detikcom untuk mendapatkan konfirmasi dari DW tidak membuahkan hasil. Hanya seorang perempuan yang mengaku sebagai istri DW sempat menemui kami.


"Mohon maaf Pak DW sedang keluar. Saya no comment soal itu (kasus investasi bodong)," ujarnya.

Para korban investasi bodong ini beramai-ramai melapor ke Polres Mojokerto Kota, Selasa (3/9). Keseluruhan korban mencapai 109 orang dengan nilai kerugian Rp 7 miliar.

Mereka tertarik menanamkan modalnya ke PT RHS karena diiming-imingi bagi hasil 5 persen tiap bulan. Namun, bagi hasil tersebut hanya berjalan beberapa kali saja. Pihak perusahaan kabur bersama uang para korban.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com