detikNews
Rabu 21 Agustus 2019, 17:22 WIB

Pasar Seni Lukis Indonesia Tahun Ini Batal Digelar, Mengapa?

Titania Dewanti - detikNews
Pasar Seni Lukis Indonesia Tahun Ini Batal Digelar, Mengapa? Pasar Seni Lukis Indonesia (Foto: Titania Dewanti)
Surabaya - Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) merupakan ajang reguler yang diikuti sekitar 200 pelukis dari seluruh Indonesia. Acara ini setiap tahun digelar di gedung milik Pemprov Jatim. PSLI diselenggarakan untuk memeriahkan HUT Provinsi Jawa Timur dan sudah menjadi agenda para seniman tiap tahun. Tetapi PSLI tahun ini batal diadakan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Hari Selasa kemarin saya sudah menyampaikan surat pembatalan PSLI itu kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi," ujar M Anis selaku Ketua Sanggar Merah Putih sebagai penyelenggara.

Pada surat tersebut M Anis menyampaikan permohonan maaf karena terpaksa membatalkan PSLI tahun ini karena tidak profesional dan sewenang-wenangnya pihak pengelola gedung JX International, yakni PT Gedung Expo Wira Jatim, sebagai anak perusahaan BUMD PT PWU (Panca Wira Usaha). Seharusnya, PSLI XII berlangsung pada 11-20 Oktober di JX International Jl Ahmad Yani No 99, Surabaya.

"Bulan Juni kemarin menerima surat konfirmasi dari PT Gedung Expo, yang menyebut bahwa PSLI berlangsung sesuai rencana, yaitu 11-20 Oktober 2019. Tanggal itu memang sesuai dengan booking gedung yang kami lakukan bulan Oktober tahun lalu. Dalam surat tersebut juga disertakan juga besarnya biaya sewa gedung selama 10 hari, yaitu Rp 330 juta, termasuk PPN 10 persen," ujar M Anis.

Tetapi, ternyata pada 6 Agustus 2019, salah seorang staf PT Gedung Expo mengirim pesan melalui WhatsApp dan memberitahukan bahwa PSLI diundur acaranya menjadi 18-24 Oktober 2019 karena bertabrakan dengan pameran properti dan pameran buku Big Bad Wolf (BBW).

"Hari itu juga, pengelola gedung mengirim surat kedua yang isinya secara sepihak bahwa mereka menggeser jadwal pelaksanaan yang sudah disepakati bersama itu menjadi tanggal 18-24 Oktober. Tidak hanya itu, mereka juga mengurangi hari pelaksanaan dari 10 hari menjadi 7 hari. Dan sewenang-wenang pula menaikkan uang sewa dari Rp 330 juta termasuk PPN 10 persen menjadi Rp 770 juta belum termasuk PPN. Kesewenang-wenangan inilah yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan untuk membatalkan pelaksanaan PSLI tahun ini," kata Cak Anis, panggilan akrabnya.

Gubernur Khofifah melihat pameran lukisan/Gubernur Khofifah melihat pameran lukisan(Foto: Titania Dewanti)

Dalam mempersiapkan PSLI tahun ini, sebenarnya penyelenggara telah bekerja sejak bulan Januari lalu. Para peserta mendaftar sejak 1 Mei 2019, dan saat ini sebanyak 140 booth atau semua stan yang disediakan sudah di-booking pelukis.

Tak hanya itu, terdapat juga beberapa mitra kerja yang berkomitmen mendukung PSLI 2019. Tetapi para pelukis dan mitra kerja itu berkomitmen untuk PSLI yang berlangsung pada 11-20 Oktober, sesuai waktu pelaksanaan yang pelaksana rencanakan sejak awal. Bukan dilaksanakan dalam waktu lain.

"Dengan pembatalan ini, selain kepada Gubernur Jatim, kami tentu juga minta maaf sebesar-besarnya kepada para pelukis yang telah mendaftar, juga kepada para mitra kerja yang telah berkomitmen. Dengan sangat terpaksa hal ini kami lakukan karena kami tidak mampu menghadapi kesewenangan pihak pengelola gedung," katanya.

Pada 2018, Kementerian Pariwisata RI memasukkan event ini dalam 100 Event Nasional, Wonderful Indonesia. PSLI sudah menjadi ikon event kesenian di Jawa Timur.

"Berdasarkan sejarah, sebelumnya, PSLI berlangsung di gedung dan pelataran Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo, Surabaya. Pemprov Jatim meminta event ini dipindahkan ke gedung JX International, karena pada saat itu gedung tersebut belum tersosialisasi dengan baik ke masyarakat, dan sepi pengguna. Karena itulah, sejak 2013, pelaksanaan PSLI kami pindahkan ke JX International, yang tidak lain milik Pemprov Jatim."

Sejak pertama kali diselenggarakan, PSLI memiliki visi membantu dan memfasilitasi para pelukis untuk bertemu dengan kolektor, galeri, serta masyarakat pencinta seni. Tak hanya itu, PSLI juga menjadi ajang bagi para pelukis untuk memperluas jaringan yang selama ini tidak mudah mereka lakukan. PSLI juga merupakan ajang silaturahmi antarpelukis dan seniman serta ajang edukasi bagi para siswa-siswi dikarenakan banyak sekolah di Surabaya dan Sidoarjo yang memberi penugasan kepada para siswanya untuk mengunjungi dan membuat laporan tentang PSLI.

Sebagai aset milik pemerintah daerah, seharusnya sarana ini tidak hanya dikelola untuk mengejar pemasukan, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berekspresi dan berapresiasi seni serta mengedukasi dengan tetap diselenggarakan secara profesional dan beretika.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
BERITA TERBARU +