detikNews
Jumat 09 Agustus 2019, 12:15 WIB

Pekerja Proyek Rusunawa Tinggalkan Utang, Pemilik Warung Tak Bisa Bayar Sekolah

Enggran Eko Budianto - detikNews
Pekerja Proyek Rusunawa Tinggalkan Utang, Pemilik Warung Tak Bisa Bayar Sekolah Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Para pekerja pembangunan rusunawa di Kota Mojokerto meninggalkan utang Rp 36 juta lebih di 3 warung dan 2 rumah kos. Para pemilik warung mengeluh tak bisa membayar biaya sekolah anaknya hingga dikejar-kejar penagih utang.

Utang para pekerja proyek rusunawa salah satunya menumpuk di warung milik Suliono (49). Lokasi warung nasi dan kopi ini sekitar 10 meter di sebelah utara gedung rusunawa, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Sejak Agustus 2018, bapak satu anak ini beralih pekerjaan dari petugas kebersihan menjadi pengusaha warung makan. Dia dibantu istrinya, Suparmi (49), mengelola warung tersebut.

Bisnis warung nasi dan kopi, yang semula manis, sejak April 2019 terasa pahit bagi pasangan Suliono dan Suparmi. Itu setelah para pekerja proyek rusunawa menunggak utang di warungnya senilai Rp 15.878.000. Uang sejumlah itu tentunya sangat bernilai bagi pasangan suami-istri ini.

Sampai saat ini, utang tersebut belum dibayar oleh para pekerja proyek. Mandor proyek Darminto hanya menitipkan uang Rp 2 juta dan sepeda motor Suzuki Satria FU beserta STNK-nya kepada Suliono. Sejak meninggalkan lokasi proyek pada 3 Juni 2019, Darminto maupun para pekerjanya tak pernah kembali untuk melunasi utangnya.

"Untuk berjualan saat itu, saya pakai modal utang ke empat orang. Sekarang ditagih terus, saya hanya bisa menyanggupi," kata Suliono saat berbincang dengan detikcom di warung miliknya, Jumat (9/8/2019).


Tidak hanya itu, Suliono menyebut tak mampu membayar biaya sekolah anaknya Rp 1,89 juta. Putra semata wayangnya belum lama ini diterima di MAN 1 Kota Mojokerto. Ia pun harus membayar biaya pendaftaran Rp 100 ribu dan daftar ulang Rp 1,79 juta.

"Untung saja anak saya punya tabungan sendiri. Akhirnya dibayar pakai tabungan anak saya," ujarnya.

Kini Suliono hanya bisa menjual dagangan seadanya di warung karena dia tak mampu belanja untuk menambah barang dagangan seperti biasanya. Untuk makan sehari-hari, keluarga ini hanya bergantung pada warung tersebut.

"Senin (5/8) kemarin istri saya dan pemilik warung yang lain ke kantor PUPR Kota Mojokerto untuk menanyakan masalah ini, tapi hanya disanggupi akan dibantu," terang Suliono sembari menunjukkan daftar utang para pekerja proyek rusunawa.

Keluhan yang sama dilontarkan Susi Jayanti (37), pemilik warung nasi dan kopi di belakang sebelah utara rusunawa. Para pekerja proyek menunggak utang Rp 8,299 juta di warung miliknya.

"Saya jualan modalnya utang kakak saya. Sekarang kakak saya mau ada hajatan, saya ditagih terus. Saya juga ditagih penyuplai sembako," ungkapnya.

Utang para pekerja pembangunan rusunawa juga menunggak di warung milik Agus Hartini Rp 9,646 juta. Selain itu, biaya sewa kamar kos belum dibayar. Nilainya Rp 1,4 juta di rumah kos Susio dan Rp 900 ribu di rumah kos milik Hari. Total tunggakan para pekerja proyek di 3 warung dan 2 rumah kos mencapai Rp 36,123 juta.

Rusunawa dibangun di atas lahan yang disiapkan Pemkot Mojokerto. Pembangunannya di bawah tanggung jawab Kementerian PUPR. Rumah susun ini akan digunakan untuk menampung para penghuni bangunan liar di bantaran rel kereta api, tepi sungai, dan tanah negara lainnya. Sementara itu, kontraktor yang terpilih melaksanakan pembangunan rusunawa adalah PT Mina Fajar Abadi.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Mojokerto Hatta Amrulloh menjelaskan, terdapat dana jaminan pekerjaan untuk masa pemeliharaan milik kontraktor yang saat ini masih di tangan Kementerian PUPR. Nilainya lebih dari Rp 1 miliar.

"Nantinya dana itu bisa diambil pihak rekanan jika semua proyek sudah tuntas, termasuk urusan dengan warung dan lain-lain," tandasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com