Sorgum, Pengganti Beras yang Jadi Penghasilan Tambahan Emak-emak di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Kamis, 08 Agu 2019 07:55 WIB
Salah satu olahan dari bahan baku sorgum (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Sorgum dikenal sebagai pengganti beras, tapi belum banyak dikenal publik. Salah satu desa di Lamongan ini berupaya mengenalkan sorgum sebagai salah satu produk unggulan desa dengan beragam olahannya.

Menanam komoditas ini sangat bersahabat dengan kekeringan dan lahan tegalan. Produktivitas rata-rata sorgum juga cukup tinggi, lebih dari 6,5 ton per hektare.

Desa di Lamongan yang berupaya mengangkat olahan makanan berbahan dasar sorgum tersebut adalah Desa/Kecamatan Karangbinangun. Desa ini memunculkan beragam produk olahan sorgum sebagai unggulan.

"Kami mencoba mengangkat sorgum sebagai salah satu produk unggulan karena memang banyak dari kami di sini yang menanam sorgum," kata Kades Karangbinangun Sugianto dalam perbincangannya dengan wartawan, Kamis (8/8/2019).


Sugianto menuturkan sorgum merupakan salah satu produk unggulan desanya yang ditumbuhkembangkan warga. Sorgum, kata Sugianto, mereka olah untuk dijadikan berbagai produk olahan makanan ringan. "Olahan makanan itu berupa popcorn, cookies sorgum, dan cendol sorgum," ujarnya.

Sugianto mengatakan lahan pertanian yang ada di desanya memang beragam. Selain tambak, juga ada lahan tegalan yang kerap ditanami sorgum, seluas lebih-kurang 20 hektare. Sorgum ini, kata Sugianto, setiap tahun menghasilkan setidaknya 5 ton.

"Sebelum ada inovasi ini, kami menjualnya saja tanpa diolah, yaitu 1 gantangnya Rp 45 ribu (1 gantang=3,125 kg)," ungkap Sugianto.

Membuat olahan berbahan dasar sorgum/Membuat olahan berbahan dasar sorgum (Foto: Eko Sudjarwo)

Menurut Sugianto, produk-produk itu lahir setelah mendapatkan pelatihan dari peserta KKN-BBM Universitas Islam Lamongan (Unisla) kelompok 24, beberapa waktu lalu. Sugianto bersama para mahasiswa ini kemudian membina ibu-ibu rumah tangga Desa Karangbinangun untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari mengolah sorgum.


"Kita berpikir bagaimana caranya masyarakat sini bisa menikmati sorgum meskipun tidak sedang musimnya," tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Desa KKN-BBM Unisla, Abdul Halim, menyebut hasil panen sorgum di Desa Karangbinangun melimpah ruah. Selain itu, sorgum menjadi komoditas tanaman yang banyak ditanam di Desa Karangbinangun.

"Potensi semacam ini untuk semakin mengembangkan program 1 desa 1 produk," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan M Zamroni mengatakan produk olahan sorgum merupakan inovasi yang bisa menjadi produk unggulan. Zamroni pun menyatakan akan mendukung sepenuhnya dengan melakukan pembinaan dan penumbuhan IKM berbasis agro.


"Dari 474 desa, ada 50 desa di-support untuk kegiatan IKM berbasis agro ini," tambahnya.

Bahkan ke depan, tambah dia, Disperindag akan memberikan arahan untuk memperbaiki kemasan dan melengkapinya dengan legalitas usaha. "Produk-produk keseluruhan akan menjadi ikon daerah. Ada banyak desa yang sudah dilatih, dengan harapan besar produk bisa bersaing dengan produk daerah lain dengan memperhatikan kemasan tentunya yang tak kalah penting," tuturnya.



Tonton juga video Harga Beras Tinggi Bikin Bulog Gagal Ekspor Beras:

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)