Puncak Kemarau, Suhu di Malang Diprediksi Anjlok Hingga 11 Derajat Celsius

Puncak Kemarau, Suhu di Malang Diprediksi Anjlok Hingga 11 Derajat Celsius

Muhammad Aminudin - detikNews
Senin, 05 Agu 2019 17:53 WIB
Balai Kota Malang/Foto file: Muhammad Aminudin
Balai Kota Malang/Foto file: Muhammad Aminudin
Malang - Agustus disebut-sebut sebagai puncak musim kemarau tahun ini. Suhu di Malang diprediksi akan menyentuh 11 derajat celsius seperti 25 tahun lalu.

Analis dan Prakirawan Cuaca BMKG Karangploso Kabupaten Malang Anung Suprayitno menyampaikan, suhu terendah yang pernah terjadi di puncak musim kemarau yakni 11 derajat. Suhu ekstrem itu terjadi pada 1994.

"Menurunnya suhu udara adalah siklus di puncak musim kemarau, yang biasanya terjadi di Bulan Agustus hingga September," kata Anung saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/8/2019).


Menurutnya, menurunnya suhu di Malang terjadi sejak awal masuk musim kemarau. Namun perkembangan cuaca di awal Agustus belum menunjukkan adanya perubahan ekstrem.

"Kemarin dan hari ini, suhu terendah masih tercatat di 16 derajat celsius. Jika melihat penurunan suhu udara di akhir Juni hingga awal Juli kemarin, yang mencapai 14 derajat celsius. Seharusnya saat ini, sudah di bawahnya," terang Anung.

Lantas faktor apa yang menyebabkan siklus 25 tahun itu belum terjadi ? Menurut Anung adanya sejumlah faktor yang mempengaruhinya.


Di antaranya perubahan iklim yang begitu cepat. "Di sisi lain, bisa ditengarai, jika di Agustus banyak terlihat awan. Maka suhu untuk mencapai 11 derajat atau lebih menurun dari hari ini akan tidak mungkin terjadi," paparnya.

Ia melanjutkan, sejak 1994 hingga saat ini, suhu terendah saat musim kemarau hanya mencapai 14 derajat.

"Asumsi kami, memang suhu akan menurun. Karena masuk puncak kemarau. Tetapi yang sampai 11 derajat, dari 1994 belum pernah terulang lagi," tambahnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak musim kemarau. "Karena menuju puncak musim kemarau, suhu udara akan menurun dari biasanya. Maka masyarakat harus mewaspadainya," pungkasnya. (sun/bdh)