Mahasiswa dan Petani Lamongan Olah Maggot Jadi Pakan Alternatif

Eko Sudjarwo - detikNews
Sabtu, 03 Agu 2019 10:13 WIB
Pembudidayaan maggot/Foto: Eko Sudjarwo
Pembudidayaan maggot/Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Mahalnya harga pakan pabrikan membuat banyak pihak memutar otak mencari pakan alternatif bagi unggas dan ikan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah mahasiswa bersama masyarakat salah satu desa di Lamongan membuat pakan alternatif.

Mereka berpadu membudidayakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang disebut dengan maggot BSF. Mahasiswa dari Unisla Lamongan bersama masyarakat Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah ini membudidayakan larva.

Binatang jenis lalat dengan ukuran yang lebih besar dan panjang untuk dijadikan pakan alternatif bagi pakan unggas dan ikan.

"Larva dari binatang sejenis lalat ini atau biasa maggot dilirik karena memiliki kandungan protein cukup tinggi," kata Rahmat Cahyono Fatmil, salah satu mahasiswa Fakultas Peternakan Unisla Lamongan bersama sejumlah rekannya sedang menggelar KKN di Desa Kuluran, Sabtu (3/7/2019).


Maggot, kata Cahyo, memiliki kandungan protein cukup tinggi. Maggot BSF dikenal sebagai hewan pemakan sampah organik. Sehingga cara pembudidayaan hewan ini juga tergolong sangat mudah. Tak hanya itu, Maggot BSF mengurai sampah sehingga nilai ekonomisnya menjadi lebih berarti.

"Keberadaan Desa Kuluran sangat mendukung keberlangsungan budidaya Maggot yang mayoritas adalah petani tambak yang sangat membutuhkan pakan alternatif. Karena pakan pabrikan atau konsentrat semakin mahal," terang Cahyo.

Cahyo menuturkan, saat ini perusahaan pakan ternak juga sudah mulai melirik maggot sebagai sumber protein pengganti tepung ikan. Budidaya maggot, bisa mendatangkan penghasilan tambahan dari penjualan telur maggot maupun penjualan pupa.

"Pembudidayaan maggot ini menjanjikan sekali, karena budidayanya menggunakan sampah yang tentu nilai ekonominya nyaris tidak ada. Kemudian maggot juga memiliki protein cukup tinggi. Kalau dijadikan pakan ternak pasti menguntungkan sekali," ujarnya.


Dia mengungkapkan, harga telur BSF saat ini Rp 10 ribu/gram. Sementara harga maggot sendiri ketika fase pupa, per kg lalat sudah seharga sekitar Rp 100 ribu dari peternak.

"Untuk tahap awal budidaya maggot BSF bisa dimulai dengan pre pupa satu kg. Dari satu gram telur itu sudah bisa menghasilkan 5 kg maggot," terang Cahyo.

Sementara Kepala Desa Kuluran, Ahmad Syafik mengaku sangat tertarik dengan budidaya Maggot BSF. Rencananya budidaya Maggot BSF bakal dimasukkan dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kuluran. Di tengah mahalnya harga pakan pabrikan, aku Syafik, ada terobosan untuk menggunakan pakan alternatif, yaitu maggot.

"Kami ingin ada pendampingan dari mahasiswa agar ini bisa berkesinambungan," ujarnya.

Bahkan, Syafik juga berangan-angan budidaya maggot ini bisa mengenalkan desa kuluran sebagai desa penghasil maggot. "Mudah-mudahan ke depan bisa menjadi penghasil Maggot BSF terbanyak di Kecamatan Kalitengah maupun di Lamongan," harap Syafik. (fat/fat)