Emak-emak di Mojokerto Kembangkan Batik Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Emak-emak di Mojokerto Kembangkan Batik Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 31 Jul 2019 08:31 WIB
Batik Mojopahit dengan pewarna dari cokelat (Foto: Enggran Eko Budianto)
Batik Mojopahit dengan pewarna dari cokelat (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Batik Majapahit yang menjadi ikon Kabupaten Mojokerto sedang dikembangkan ke arah ramah lingkungan. Salah satunya menggunakan pewarna cokelat. Seperti apa?

Batik motif Majapahitan dengan pewarna cokelat ini sedang dikembangkan oleh emak-emak dalam komunitas perajin batik di Mojokerto. Salah seorang penggagasnya adalah Ayu Christina (36), warga Gedeg, Mojokerto.

"Ide awalnya dari Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto yang ingin memanfaatkan limbah kakao. Saya coba ekstraksi kulit ari biji cokelat untuk pewarna alami," kata Ayu kepada wartawan usai membuat batik dengan pewarna cokelat di Wisata Desa, Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu, Rabu (31/7/2019).

Ayu mengembangkan batik Majapahit dengan pewarna cokelat bersama emak-emak yang tergabung dalam komunitas perajin batik. Bahan kulit ari cokelat diperoleh dari Wisata Desa yang mengelola perkebunan kakao dan produksi aneka kue cokelat dengan merk Mojopahit.

Dia menjelaskan, agar bisa digunakan sebagai pewarna alami batik, kulit air kakao lebih dulu direndam semalam. Tujuannya untuk mengurangi kandungan getah. Selanjutnya kulit ari kakao direbus untuk diekstraksi warnanya.

Menurut Ayu, hasil ekstraksi kulit ari kakao harus dicampuri dengan pewarna alami lainnya agar warna cokelat yang dihasilkan semakin luat. Salah satunya menggunakan kulit buah Jalawe. Sementara serbuk kayu tegeran, tingi, atau mahoni digunakan untuk mengawetkan warna agar tak mudah luntur.

"Awetnya tergantung perawatan dan intensitas pemakaian. Tidak boleh dijemur di bawah matahari langsung, cuci pakai tangan dengan sampo, setrika tak boleh terlalu panas. Estimasi tahan sampai 3 tahun," terang Ayu.


batikFoto: Enggran Eko Budianto


Motif batik Majapahitan dengan pewarna cokelat buatan Ayu dan kawan-kawan ternyata beragam. Di antaranya motif gapura, surya Majapahit, buah maja, Putri Campa, merico bolong, dan motif sisik.

Meski menggunakan pewarna alami, batik buatan emak-emak ini tergolong ramah di kantong. Batik tulis dibandrol Rp 150 ribu per meter, sedangkan batik dengan teknik jumput hanya Rp 75-100 ribu per meter.

"Paling mahal batik tulis Rp 1,5 juta, misalnya motif merica bolong dan sisik. Karena memang proses menggambarnya sangat rumit," ujarnya.

Ayu berharap, batik Majapahit dengan pewarna cokelat bisa dikenal luas di Indonesia. "Ke depan targetnya bisa kami produksi massal, laku di dalam negeri maupun luar negeri," tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto Yoko Priono menuturkaan, inspirasi batik Majapahit dengan pewarna cokelat datang dari pengelola Wisata Desa. "Beliau cerita kulit ari kakao kalau kena baju tidak bisa hilang. Dari situ saya ingin manfaatkan untuk pewarna batik," ungkapnya.

Yoko mengaku telah menyiapkan market place untuk memasarkan batik Majapahit secara online. "Kami kerjasama dengan beberapa market place. Selama ini penjualan batik lokal sampai Kalimantan," tandasnya. (iwd/iwd)