Pabrik Benang di Sidoarjo Diblokir Warga, Batu Besar Ditumpuk di Akses Masuk

Suparno - detikNews
Senin, 29 Jul 2019 21:25 WIB
Warga meletakkan batu besar di akses pintu masuk pabrik (Foto: Icha)
Sidoarjo - Ratusan warga dan pemuda Desa Megare Ngelom, Kecamatan Taman, Sidoarjo, melakukan aksi blokir akses pintu masuk pabrik benang, CV Sumber Agung. Pemblokiran dilakukan warga dengan meletakkan batu-batu besar yang sedianya akan digunakan untuk membangun lahan untuk kepentingan pelebaran di depan pabrik.

"Mereka menyuruh kami menghentikan pembangunan balai RT. Sementara mereka akan melakukan pengembangan pabrik. Kami tidak terima pabrik benang ini menyuruh membongkar balai RT 1 dan RW 4 serta aset-aset masjid untuk kepentingan operasional dan pelebaran pabrik. Padahal lahan itu milik BPWS dan dinas pengairan," kata Korlip Warga, Nanang Qosim kepada detikcom saat dikonfirmasi, Senin (29/7/2019).

Nanang menjelaskan aksi ini dilakukan setelah proses mediasi mengalami titik buntu dengan pihak pabrik. Pihak Kelurahan Ngelom, Polsek Taman, Danramil, Bhabinkamtibmas, Kecamatan Taman yang dilibatkan juga tidak menemukan titik temu.

"Sejak puasa ramadhan kemarin, pihak perusahaan membuat pagar betis tembok dan besi tanpa koordinasi dengan warga. Tujuannya memperluas pabrik. Sementara warga membuat balai RT tidak diizinkan, malah disuruh membongkar. Padahal lahan yang dipakai punya BPWS. Tapi BPWS Jatim yang kantornya di Jalan Raya Wiyung, itu tidak pernah hadir saat diundang warga untuk menanyakan perihal ini," tegasnya.

Sementara Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Dadang Fauzi (41) mengaku aksi ini dilakukan karena pabrik tidak pernah menggubris dan menanggapi keinginan warga agar menghentikan pembangunan permanen. Padahal pihak pabrik pernah komitmen dan menyepakati beberapa hal dengan warga.

"Jadi pabrik sudah punya komitmen dengan warga tahun 2010 tembusan pak lurah bahwa menyepakati lahan di depan pabrik untuk lahan terbuka hijau dan untuk umum. Kenapa tidak melakukan komitmen itu," tambahnya.


Warga meletakkan batu besar di akses masuk pabrik (Foto: Icha)


Dia mencontohkan pembangunan balai RT 1 dan RW 1 beberapa waktu lalu yang dicegah oleh pabrik dengan beberapa alasan. Di antaranya, pihak perusahaan yang berdiri sekitar 1978 silam sudah menyewa lahan tersebut dengan pihak BPWS.

"Kami minta pabrik menyepakati kesepatan dengan warga tahun 2010. Tapi tahun ini pabrik mengingkari kesepakatan dengan membangun untuk perluasan pabrik. Bahkan meletakkan batu-batu besar untuk persiapan pembangunan. Alasannya karena sudah menyewa ke BPWS. Mana yang benar," tegasnya.

Selama ini, jelas Dadang, pihak pabrik hanya mengutus HRD untuk berunding dengan warga saat beberapa kali pertemuan. Namun tetap tidak bisa menentukan dan memberikan keputusan perihal ini.

"Untuk bapak Nyoman selaku owner pabrik untuk menemui warga. Jika tidak berani menemui warga, silahkan menemui muspika setempat untuk berunding. Batu-batu yang kami letakkan ini merupakan peringatan bagi pabrik. Siapa saja yang membersihkan batu-batu ini, warga akan meletakkan kembali dan mengerahkan massa yang lebih besar lagi. Kami minta pabrik tidak semena-semena dengan warga," tandas Dadang.

Pihaknya, jelas Dadang, paham bahwa area tersebut milik Dinas Pengairan dan sewaktu-waktu bisa diambil kembali. "Tapi pihak pabrik ini melarang warga mendirikan balai RT seolah-olah tanah miliknya sendiri. Padahal sama-sama milik dinas pengairan. Toh dia juga mengambil tanah sepadan," tambahnya.

Salah satu dewan direksi pabrik yang enggan menyebut nama menemui warga, tidak bergeming dengan permintaan warga. Warga pun tetap bertahan agar owner pabrik menemui warga dan menyepakati kesepakatan yang dilakukan tahun 2010 dan membiarkan warga melakukan aktivitas.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB berlangsung damai. Meski begitu warga masih bergerombol di pinggir jalan. Mereka mengancam akan mengerahkan massa yang lebih besar lagi bila pihak pabrik tetap bertahan pada pendiriannya.

Simak Video "Unik! Penampakan Gunung Semeru 'Bertopi' Awan"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/iwd)