Pengidap HIV/AIDS di Tulungagung Meningkat, Diskriminasi Turun

Pengidap HIV/AIDS di Tulungagung Meningkat, Diskriminasi Turun

Adhar Muttaqin - detikNews
Jumat, 26 Jul 2019 18:55 WIB
Foto: Reuters
Foto: Reuters
Tulungagung - Orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Tulungagung mencapai 2.490 jiwa selama 13 tahun. Dari jumlah itu didominasi usia produktif.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Rohmania, mengatakan dalam rentang 2006-2019 jumlah Odha di wilayahnya terus meningkat hingga total 2.490 jiwa. Bahkan selama awal tahun 2019 ini bertambah 91 orang.

"Itu data sampai Maret, untuk April sampai Juli ada lagi tambahannya. Nah Odha di Tulungagung ini dari berbagai kalangan mulai profesional, nelayan, pekerja seks, petani, buruh pabrik hingga medis ada juga. Yang meninggal ada sekitar dari 500 orang," kata Ifada, Jumat (26/7/2019).

Dari ribuan pengidap HIV/AIDS tersebut mayoritas adalah usia produktif, dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki. Para Odha itu 98 persen terpapar virus akibat hubungan seksual yang tidak aman atau bergonta-ganti pasangan.

""Artinya rata-rata dari perilaku. Di sisi lain ada juga ibu-ibu yang terkena AIDS karena tertular dari pasangan. Tapi yang paling banyak menang karena hubungan seksual dalam tanda kutip affair. Dalam hal ini rata-rata justru heteroseksual bukan homoseksual," Imbuhnya.

Para Odha biasanya baru terdeteksi saat yang bersangkutan mengalami sakit, hingga dilanjutkan dengan proses pemeriksaan HIV/AIDS. Selain itu beberapa ibu rumah tangga terdeteksi saat melakukan pemeriksaan kehamilan di bidan maupun layanan kesehatan.


"Saat ini, setiap ibu hamil pasti dilakukan pemeriksaan HIV/AIDS, ini dilakukan untuk mendeteksi lebih dini sehingga apabila positif tidak sampai menular kepada anak atau orang lain," imbuhnya.

Psikolog ini mengaku, warga yang telah dinyatakan positif terpapar HIV/AIDS akan langsung ditangani tim terpadu dan diwajibkan untuk mengkonsumsi obat Antiretroviral Virus (Arv) secara rutin.

Ifada menambahkan proses penanganan awal terhadap para Odha membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, hal ini terkait penyadaran atas kondisi rill yang bersangkutan sehingga bisa menerima keadaan yang dialami.

"Yang lama itu biasanya adalah ibu rumah tangga, karena sebagian besar mereka tidak tahu apa-apa, tapi karena perilaku seks suami yang bergonta-ganti pasangan sehingga tertular," imbuhnya.

KPA Tulungagung bersama dinas kesehatan setempat terus melakukan proses pendampingan kepada para Odha, bahkan saat ini ada ratusan penyintas aktif dalam berbagai kegiatan penanggulangan HIV/AIDS.


"Mereka kami libatkan dengan berbagai kegiatan, bahkan ada juga yang terbuka dan memberikan edukasi serta pemahaman kepada masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif," kata Ifada.

Pihaknya mengaku problem stigma negatif dari masyarakat terhadap pengidap HIV/AIDS hingga kini masih terjadi. Namun pihaknya mengklaim pemahaman masyarakat jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya atau berkurang drastis. Saat ini sebagian warga telah mengetahui seluk-beluk tentang HIV/AIDS dan penularannya, sehingga tidak lagi mengucilkan atau memberikan stigma negatif bagi Odha.

"Di salah satu desa itu ada keluarga yang Odha, saking takutnya warga, ketika Odha itu bermain di tetangga, bekas tempat duduknya sampai dipel. Tapi saat ini sudah beda, warga sudah paham dan tidak lagi seperti itu," jelasnya.

Lanjut dia, proses edukasi kepada masyarakat yang dilakukan KPA maupun dinas kesehatan serta keterbukaan dari Odha sendiri akan mempercepat dalam mereduksi stigma. Pihaknya mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak takut bergaul, dengan para Odha, sebab proses penularan HIV/AIDS tidak semudah itu.

"HIV/AIDS itu tidak akan menular dengan salaman, ngobrol, maupun melalui alat makan," ujarnya.


Simak Juga 'Haru! Reaksi Masyarakat Terhadap Pejuang HIV':

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)