Budayawan Ingatkan Pemerintah Tak Lupa Situs di Tol Pandaan-Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Minggu, 07 Jul 2019 15:33 WIB
Seniman dan budayawan mengajak warga agar tak lupa situs Sekaran (Foto: Muhammad Aminudin)
Seniman dan budayawan mengajak warga agar tak lupa situs Sekaran (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang - Situs Sekaran yang masyhur di tepian tol Malang-Pandaan, belum pasti nasib ke depannya. Budayawan dan seniman berkumpul untuk mencegah lupa. Mereka berharap, langkah melestarikan situs kembali dilanjutkan setelah vacum usai ditemukan.

Dua penari topeng gemulai mengikuti alunan musik di tengah area situs Sekaran yang berada di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (7/7/2019). Penghormatan dengan memanjatkan doa dilantunkan beberapa orang di dekat tumpukkan batu bata kuno, yang merupakan bagian dari situs peninggalan pra Majapahit itu.

Sejak pertama kali ditemukan, ekskavasi dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, April 2019 lalu. Usai itu, Balai Arkeologi Yogyakarta terjun untuk melanjutkan penelitian.

Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy sempat datang setelah situs mulai ditinggalkan, dan sebelum itu, Plt Bupati Malang Sanusi juga datang melihat langsung area situs. Terakhir, warga desa, memasang pagar bambu dan mendirikan atap untuk melindungi situs yang diperkirakan dibangun pada abad 10-13 Masehi itu.

Namun, ketiadaan aktivitas setelah itu, mendorong budayawan dan seniman di Malang menggelar kegiatan di situs Sekaran hari ini.


"Kami ingin mengingatkan, agar tidak lupa akan situs ini. Setelah viral bukan hanya melalui pemberitaan, dan juga kegiatan demi menyelamatkannya. Tetapi, beberapa bulan ini, itu tak terjadi lagi alias senyap," ungkap sejarahwan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono ditemui di lokasi, Minggu siang.

Dwi bersama pecinta budaya di Malang sangat berharap kembali adanya kesigapan yang dilakukan, baik oleh Jasa Marga, Pemkab Malang, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat dalam melindungi dan melestarikan situs Sekaran.

"Dulu respons itu begitu cepat, baik oleh Jasa Marga, BPCB, kementerian sampai Pemkab dan juga Pemprov. Jangan sampai hilang dan melupakan situs ini. Karena masih banyak yang perlu dilakukan sebagai bentuk eksplorasi lanjutan beserta pelestariannya," beber Dwi.

Menurut dia, keterlibatan sejumlah pihak dalam eksplorasi lanjutan sangat penting dilakukan. Selain mewujudkan komitmen yang pernah dinyatakan yakni perlindungan dan pelestarian situs Sekaran.

"Ini kan belum terungkap detilnya, luasannya berapa. Karena memungkinkan area situs ini jauh lebih besar, daripada saat ini. Dalam kesempatan ini, kami ingin sampaikan jo lali marang situs Sekaran (jangan lupa dengan situs Sekaran)," tegasnya.


Bagi dDwi beserta pecinta budaya di Malang, keberadaan situs Sekaran bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi saat ini dan mendatang. Apalagi, keberadaan situs, lokasinya berada di tepian jalan tol Malang-Pandaan.

"Sajian keberadaannya sudah unik, karena di tepian jalan tol. Bisa nanti dijadikan semacam wisata edukasi sejarah yang tentunya butuh keterlibatan dan keseriusan pemerintah dan masyarakat," cetusnya.

Hasil ekskavasi tim BPCB Jawa Timur mengungkap, situs Sekaran terbagi menjadi beberapa bagian. Lingkup situs sementara seluas 25x25 meter. Sekaran juga terbilang unik, dengan struktur bangunannya menggunakan bata kuno. Lokasinya juga tepat menghadap Gunung Semeru (timur) dan membelakangi Gunung Kawi serta komplek Gunung Penanggungan, Arjuna, dan Welirang.

Simak Video "BPBD-Polisi Evakuasi Korban Banjir Pasuruan"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)