Virus Hepatitis A di Pacitan dari Air Minum? Ini Penjelasan Dinkes

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Kamis, 04 Jul 2019 17:05 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan dr Eko Budiono/Foto: Purwo Sumodiharjo
Pacitan - Virus Hepatitis A yang mewabah di Pacitan diduga berasal dari sumber air minum warga. Begini penjelasan Dinas Kesehatan setempat.

Air dari resapan sungai menjadi andalan sebagian warga Kecamatan Sudimoro untuk memenuhi kebutuhan air minum saat musim kemarau. Kebiasaan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan mereka tak merasakan gejala apapun.

Namun banyaknya warga yang dinyatakan positif terpapar virus Hepatitis A, sumber air buatan warga itu mendadak jadi buah bibir. Dugaan pun mengarah pada kontaminasi jasad renik pada air yang dikonsumsi warga.

"Kalau fisiknya kemarin saya lihat itu bagus. Jernih, tidak berbau. Mungkin karena sudah dibersihkan ya. Tapi bakteriologisnya kemarin masih jelek," kata Kepala Dinas Kesehatan Pacitan dr Eko Budiono saat berbincang dengan detikcom, Kamis (4/7/2019).


Indikator terhadap kualitas air, lanjut Eko, dilihat berdasarkan kadar bakteri Ecolli di dalamnya. Sebelum dilakukan klorinasi, indeks bakteriologisnya mencapai 2.400/100 ml. Padahal ambang batasnya adalah 50/100 ml.

Lalu apakah itu berarti penularan virus Hepatitis A dipastikan berasal dari air minum warga? Eko Budiono enggan berspekulasi. Sebab, lanjut dia, secara teori virus sangat sulit ditemukan di air sungai.

Virus Hepatitis A hanya akan ditemukan di tubuh orang yang mengidapnya. Tetapi dia menegaskan konsumsi air yang tidak sehat tetaplah berpotensi memicu serangan beragam penyakit.

"Kami beranggapan dengan ecolli yang tinggi tidak menutup kemungkinan virus Hepatitis A-nya ada juga di situ.


Oleh karena itu, Eko menegaskan pihak berkonsentrasi pada dua langkah utama. Yakni memastikan air yang didistribusikan kepada warga bebas dari bakteri dan virus. Ini dilakukan dengan pemberian kaporit. Berbarengan dengan itu kampanye Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga terus digalakkan.

"Dan yang terus kita gencarkan adalah sosialisasi agar masyarakat membiasakan diri memasak air sampai benar-benar mendidih dalam tempo minimal 5 menit sebelum digunakan memasak makanan," pungkasnya.

Akumulasi penderita yang terlaporkan hingga saat ini mencapai 1021 orang. Dari jumlah itu 539 orang berasal dari wilayah Puskesmas Sudimoro. Berikutnya Ngadirojo 184 orang, Sukorejo 100 orang, Tulakan 70 orang, Wonokarto 54 orang, Arjosari 34 orang, Bubakan 27 orang dan Tegalombo 6 orang. Adapun 1 penderita lain ditemukan di Kecamatan Bandar.

Simak Video "Waspada! Ini Video Hoax Gunung Semeru Meletus"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bdh)