detikNews
Rabu 03 Juli 2019, 16:05 WIB

Hepatitis A Mewabah di Pacitan, Kemenkes Teliti Sumber Air

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Hepatitis A Mewabah di Pacitan, Kemenkes Teliti Sumber Air Tim Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes RI, Triani/Foto: Purwo Sumodiharjo
Pacitan - Wabah Hepatitis A yang melanda Pacitan menarik perhatian pemerintah pusat. Tim Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI datang ke Pacitan untuk periksa sumber air.

Yakni ke tempat pengambilan air di Sungai Sukorejo, Kecamatan Sudimoro. "Setelah investigasi sebelumnya katanya airnya positif ecolli. Nah, jadi kami pikir kalau sudah ada ecolli kemungkinan sudah ada cemaran tinja. Dan itu sebagai kemungkinan untuk adanya virus Hepatitis A. Tapi belum pasti juga," kata salah satu anggota tim, Triani saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2019).

Ia menyampaikan, proses pemeriksaan untuk mengetahui keberadaan virus tersebut memakan waktu lama. Antara seminggu hingga 2 minggu. Sampel air yang diambil dari lokasi dimasukkan ke dalam wadah berupa botol plastik. Selanjutnya sampel tersebut dibawa ke Jakarta untuk diteliti.

"Kita akan periksa di laboratorium dulu," imbuhnya.


Seperti pantauan detikcom, lokasi sumber air minum warga berada di hamparan sungai yang mengering. Mereka berinisiatif membuat ceruk dengan menggali pasir dan bebatuan. Lubang berbentuk kotak berukuran 3 x 3 meter tersebut ditopang dengan zak berisi pasir pada keempat sisinya.

Sepintas air yang meresap dan terkumpul di dalam kolam mini tersebut tampak jernih. Tiap hari air disedot dan dimasukkan ke beberapa tabung plastik warna oranye. Masing-masing berkapasitas 1000 liter. Selanjutnya air didistribusikan dengan kendaraan roda 4 ke rumah-rumah warga.

"Dulunya saya bikin sendiri. Terus lambat laun warga yang lain juga bikin seperti ini. Akhirnya ini sekarang dikelola oleh masyarakat dan dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan," ucap Santoso (54) pengelola sumber air kepada detikcom.

Sedikitnya ada 5 desa yang mengandalkan kiriman air yang diambil dari sumber tersebut. Antara lain Sumberejo, Sudimoro, Karangmulyo, Ketanggung dan Gunungrejo. Beberapa wilayah tersebut merupakan kantong rawan air bersih tiap musim kemarau.


Kepala Dinas Kesehatan Pacitan Dr Eko Budiono mengatakan, sejauh ini pihaknya belum berani memastikan penyebab pasti rantai penularan Hepatitis A di Pacitan timur. Penelitian yang dilakukan sebelumnya hanya mendapati kadar ecolli dalam air sungai Sumberejo mencapai 2.400 per 100 mililiter. Padahal ambang batas toleransi hanya 50 per 100 mililiter.

Saat ini, lanjut Eko, pihaknya fokus pada 2 langkah utama. Yakni mensterilisasi air yang didistribusikan ke warga serta memberikan edukasi tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

"Di tandon (tabung wadah air) kita kasih kaporit. Kalau sungainya yang kita beri klorin kurang efektif karena airnya mengalir. Dan yang terus kita gencarkan adalah sosialisasi agar masyarakat membiasakan diri memasak air sampai benar-benar mendidih dalam tempo beberapa menit," ujarnya.

Terkait jumlah penderita Hepatitis A di wilayahnya, Eko menyebutkan angka 992 orang. Jumlah itu merupakan akumulasi sejak pertama kali ditemukan kasus pada Rabu (8/5). Penambahan angka tersebut, terang Eko, bukan berarti penambahan jumlah penderita. Namun dikarenakan kemungkinan adanya penderita lama yang baru terlaporkan.

Simak Video "701 Warga Terjangkit Hepatitis A, Pacitan Berstatus KLB"
[Gambas:Video 20detik]

(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed