detikNews
Selasa 02 Juli 2019, 16:16 WIB

Petani dan TNI di Tulungagung Terjun ke Sawah Basmi Tikus

Adhar Muttaqin - detikNews
Petani dan TNI di Tulungagung Terjun ke Sawah Basmi Tikus Petani menyiram sarang tikus dengan air lalu menangkapnya (Foto: Adhar Muttaqin)
Tulungagung - Puluhan petani di Tulungagung dibantu aparat TNI dan Dinas Pertanian setempat melakukan upaya pembasmian hama tikus dengan sistem gropyokan. Hasilnya, puluhan tikus dapat ditangkap dan dimusnahkan.

Aksi gropyokan dilakukan oleh Kelompok Tani Mulyo Kelurahan, Kutoanyar, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung. Sistem gropyokan ini dilakukan dengan cara mengairi liang yang menjadi persembunyian tikus dengan air dari pompa air.

Dengan cara itu, tikus yang berada di dalam sarang akan keluar dan selanjutnya ditangkap oleh para petani maupun aparat TNI yang ikut serta membantu dalam kegiatan tersebut.

Menurut salah seorang petani, Agus Heri Purwanto, saat ini serangan hama tikus mulai merebak di area persawahan Kutoanyar, akibatnya banyak tanaman padi yang rusak dijarah tikus, padahal usia tanaman padi yang petani baru berusia dua minggu.

"Tikus mulai banyak lagi, serangan tikus ini tidak mengenal usia padi, mulai dari baru tanam sampai mau panen bisa diserang. Yang di sini ini rata-rata masih dua minggu banyak yang dipotongi oleh tikus," kata Agus, Selasa (2/7/2019).


Langkah gropyokan rutin digelar oleh para petani setempat, karena dinilai bisa mengurangi jumlah populasi tikus. Selain itu warga juga menerapkan metode pembasmian dengan cara lain, mulai memasang jebakan hingga penyebaran racun tikus.

"Yang jelas berbagai cara dilakukan agar tikusnya tidak semakin membabi buta. Kegiatan seperti ini selalu kami lakukan setiap musim tanam atau pada saat padi mulai tumbuh," jelasnya.

Agus menambahkan, penanggulangan hama tikus dinilai lebih efektif apabila dilakukan pada awal musim tanam, sehingga perkembanganbiakan tikus dapat dikendalikan. Selain itu dampak kerugian yang ditimbulkan di awal musim tanam akan lebih sedikit.

"Kalau padi masih usia muda apabila diserang tikus masih bisa tumbuh lagi, tapi kalau sudah mulai berbulir ya mati," ujarnya.

Serangan tikus secara masif sempat terjadi di area persawahan Kutoanyar pada akhir 2018 yang lalu, akibatnya banyak petani yang gagal panen. Saat itu serangan hama tikus sulit dikendalikan sebab usia padi mulai menua.

Sementara itu Petugas PUPT Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Suhartoyo, mengatakan metode gropyokan dengan air merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah populasi tikus. Cara tersebut dinilai efektif dan lebih ramah lingkungan.

"Akan efektif apabila dilakukan secara rutin, tapi kalau tidak rutin ya populasinya akan banyak lagi," katanya.


Dari pengamatan yang dikakukan Dinas Pertanian kabupaten maupun provinsi, masifnya serangan hama tikus di Tulungagung khususnya Kutoanyar diakibatkan oleh beberapa faktor.

"Faktor yang mempengaruhi banyaknya populasi tikus karena musim tanam yang tidak serempak, daerah sini baru tanam sedangkan di seberang sana sudah mau berbulir bahkan ada yang mau panen," ujarnya.

Sehingga stok makanan yang menjadi sasaran tikus terus tersedia dan melimpah. Tikus pun akan mengalami ledakan perkembangbiakan. Selain musim tanam, faktor perbedaan jenis tanaman juga ikut mempengaruhi tingginya intensitas serangan hama tikus.

"Yang di sini padi kemudian di seberang palawija, ya otomatis ikut mempengaruhi," imbuhnya.

Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait tidak serempaknya musim tanam maupun jenis tanaman. Pihaknya hanya sebatas melakukan penyuluhan dan edukasi kepada para petani.

"Biasanya yang tidak bisa diajak kompak itu adalah petani yang menyewa lahan, karena mereka mengejar waktu dan target penghasilan," ujar Suhartoyo.




Simak Juga 'Di Galapagos, Hama Tikus Diberantas Pakai Drone':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Tikus Merebak, Petani dan TNI di Tulungagung Gelar Gropyokan"
[Gambas:Video 20detik]

(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com