detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 13:31 WIB

Rugi Rp 50 Juta Tiap Panen, Peternak Ayam di Blitar Siap Gulung Tikar

Erliana Riady - detikNews
Rugi Rp 50 Juta Tiap Panen, Peternak Ayam di Blitar Siap Gulung Tikar Seorang peternak saat mengobral ayam/Foto: Erliana Riady
Blitar - Para peternak ayam broiler di Blitar rugi Rp 50 juta setiap panen. Mereka siap-siap gulung tikar.

Aksi obral ayam broiler yang dilakukan Yuli, menginspirasi peternak mandiri lainnya. Sekitar 10 peternak ayam broiler di Kalipucung, Kecamatan Sanankulon juga melakukan hal sama di depan Kantor Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok.

Seorang peternak Budi Setyawan mengatakan, mereka terpaksa mengobral ayam hasil ternak untuk mengembalikan modal membeli pakan. Setelah itu, mereka akan 'diam' sambil menunggu harga daging ayam kembali normal di tingkat peternak.

"Iya Mbak diobral buat ngembaliin pakan. Setelah itu ya kami gulung tikar dulu. Nanti kalau harga sudah bagus lagi, baru beli DOC lagi. Ini pokok uang pakan bisa balik aja dulu," kata Budi disela melayani pembeli, Selasa (25/6/2019).


Budi bukan peternak yang bermitra dengan integrator. Dia bersama 9 rekannya membentuk kemitraan sendiri. Mereka masing-masing memelihara ayam broiler sebanyak 2000 ekor. Bagi Budi dan kawan-kawan, harga ayam Rp 8 ribu per kg menjadi jalan menuju kebangkrutan.

"Dengan ayam 2000 itu kami panen per 40 hari. Sekali panen bisa mencapai 5 ton. Bagi kami, harga Rp 18 ribu per kg itu sudah untung.
Kalau sekarang harga cuma Rp 8000. Berarti kami merugi Rp 10 ribu per kg. Sekali panen, ruginya mencapai Rp 50 juta," bebernya.

Perhitungan Budi terbilang masuk akal. Dengan 2000 ekor ayam, dia membutuhkan pakan sebanyak 160 sak. Harga pakan sebesar Rp 390 ribu per sak. Kemudian biaya operasional selama 40 hari mencapai Rp 3 juta.


Kemudian biaya obat-obatan sekitar Rp 2 juta. Seharusnya, setiap kali panen Budi bisa meraup omzet sampai Rp 90 juta.

Merosotnya harga ayam broiler dirasakan peternak mandiri pascalebaran. Secara bertahap, harga turun mulai ke Rp 13 ribu per kg, lalu turun terus sampai Rp 2 ribu per kg.

Budi mengaku heran mengapa harga di peternak sangat rendah. Padahal harga di pasar basah Rp 22 ribu per kg,

"Nah itu yang kurang tahu. Mungkin permainan pedagang, kita kan kurang tahu. Wong harga Rp 8 ribu ini saja pedagang masih pilih-pilih. Banyak yang diafkir. Makanya selama seminggu ini kami obral, jualan sendiri seperti sekarang," pungkasnya.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com