detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 15:13 WIB

Hutan Gunung Arjuno Terus Terjadi Kerusakan, Resapan Air Berkurang

Muhajir Arifin - detikNews
Hutan Gunung Arjuno Terus Terjadi Kerusakan, Resapan Air Berkurang Potret Gunung Arjuna dari kejauhan/Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Deforestasi dan degradasi lahan di kawasan Gunung Arjuno terus berlangsung selama 20 tahun terakhir. Krisis lingkungan sudah dirasakan masyarakat sekitar.

Gunung Arjuno merupakan daerah tangkapan air dan hulu dari sungai Brantas. Gunung setinggi 3.339 meter ini memiliki arti penting bagi hampir 2 juta warga Kabupaten dan Kota Pasuruan. Atau secara umum mampu memenuhi kebutuhan air bagi 43 persen masyarakat Jawa Timur.

"Ironisnya, selama kurun 20 tahun ini kerusakan hutan terus dijumpai. Degradasi lahan juga terus saja terjadi di Iereng Gunung Arjuno. Problem kerusakan beragam, mulai adanya pembalakan, alih fungsi lahan, hingga kebakaran hutan," kata Koordinator Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Kaliandra Sejati, Syarifudin Latif, Rabu (19/6/2019).

Syarif menjelaskan kondisi itu membuat Gunung Arjuno sebagai kantong resapan air utama berangsur-angsur kehilangan fungsinya hingga ketersediaan air pun berkurang. Dampaknya, keberlanjutan sumber daya air terancam karena tingginya penggunaan air, sementara pasokan terbarukannya sangat rendah.


"Bisa dipahami jika pada musim kemarau ada puluhan desa di 38 Kabupaten Pasuruan mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Saat musim hujan, banjir dan longsor," terangnya.

Kondisi tersebut, kata dia, seharusnya mendorong semua pihak untuk lebih fokus dalam penguatan Gunung Arjuno. Program penyelamatan hutan harus dilakukan multipihak dan berkelanjutan.

"Pihak swasta harus memiliki komitmen senantiasa menjaga keberlanjutan sumber daya air. Air menjadi satu hal yang tak bisa dilepaskan di seluruh kegiatan operasional perusahaan," pungkasnya.


Syarif mengapresiasi sejumlah pihak baik pemerintah maupun swasta yang sudah bergerak melakukan penanaman pohon. Namun, kata dia, program penanaman seringkali mengabaikan potensi hidup pohon.

"Selama ini banyak juga yang hanya menahan tanpa merawat, tak peduli pohon yang ditanam itu tumbuh atau tidak," terangnya.

Syarif berharap, upaya penguatan vegetasi Gunung Arjuno difokuskan pada akselerasi perawatan alami. Model ini lebih efektif daripada penanaman pohon baru.

"Seharusnya dilakukan akselerasi perawatan alami. Itu yang sudah kami lakukan. Di atas banyak anak-anak pohon butuh perawatan. Itu lebih mudah dan efektif dibanding penanaman baru. Namun, pengayaan tanaman juga tetap dibutuhkan," pungkasnya.


(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed