detikNews
Selasa 18 Juni 2019, 13:59 WIB

Balita 15 Bulan di Ponorogo Terluka Bakar Setelah Ketumpahan Air Panas

Charoline Pebrianti - detikNews
Balita 15 Bulan di Ponorogo Terluka Bakar Setelah Ketumpahan Air Panas Balita Anan yang tersiram air panas (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo - Seorang balita di Ponorogo kembali menjadi korban air panas. Balita 15 bulan bernama Maftuh Anan itu harus dirawat setelah terkena tumpahan air panas.

Sebelumnya, balita 17 bulan Arif Nur Hasan juga mengalami luka bakar setelah tercebur panci berisi air mendidih. Kondisi Arif sekarang kritis di RSUD dr. Harjono.

Anan, nampak terdiam saat petugas memeriksa selang infus. Anan sendiri sudah 4 hari berada di RSUD dr. Harjono. Dia dirawat usai terkena tumpahan air panas. Bagian dada hingga ke bawah tubuh Anan tampak diperban. Luka bakar yang dialaminya mencapai 10 persen.

"Anan sudah menjalani 1 kali operasi," tutur ibunya, Tutik Lestari (34) saat ditemui detikcom di RSUD dr. Harjono, Jalan Raya Ponorogo-Pacitan, Selasa (18/6/2019).


Anan tinggal bersama kedua orang tuanya, Tumaji (44) dan Tutik Lestari (34) yang merupakan warga Desa Pengkol, Kecamatan Kauman.

Anak bungsu dari empat bersaudara ini memang tengah belajar berjalan. Nahas, saat Jumat (14/6) malam ibunya tengah membuat kopi. Anan menyusul ke dapur dan meraih gelas berisi air panas hingga terkena tubuh kecilnya.

"Saya tahunya Anan sudah nangis, saya lihat masih pegang gelas isi air panas," terang dia.

Kedua orang tua Anan pun panik, namun melihat kondisi anaknya yang tidak rewel akhirnya mereka menunda memeriksakan ke rumah sakit. Keesokan harinya, Sabtu (15/6) luka bakar ditubuh Anan melepuh.

"Karena diusap sama anaknya akhirnya kan luka, terus kami bawa ke RSUD, di sini kami pun meminta untuk rawat jalan," jelasnya.


Alasannya, karena tidak memiliki biaya untuk rawat inap di RSUD. Namun pihak dokter memaksa Anan untuk dirawat karena melihat kondisi Anan yang memprihatinkan.

"Terus dirawat, sama dokter dikasih tahu kalau harus dioperasi. Karena nggak ada biaya, kami pun menunda hingga 12 jam. Sampai akhirnya demi keselamatan anak, kami menyetujui operasi," paparnya.

Maklum, lanjut Tutik, pekerjaan suaminya sebagai buruh tani penghasilannya tidak menentu. Untuk kehidupan sehari-hari saja kurang apalagi untuk membiayai operasi anak bungsunya.

"Anan tidak punya BPJS, makanya kami bingung soal biaya," imbuhnya.

Hingga kini Anan bersama kedua orang tuanya berharap ada keringanan biaya. "Saya ingin anak saya sembuh dan minta keringanan biaya," pungkas dia.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed