detikNews
Sabtu 15 Juni 2019, 17:49 WIB

Meski Punya Sumber Air Melimpah, Namun Pasuruan Selalu Kekeringan

Muhajir Arifin - detikNews
Meski Punya Sumber Air Melimpah, Namun Pasuruan Selalu Kekeringan Warga Pasuruan antre air (Foto: Muhajir Arifin)
Pasuruan - Meski memiliki sumber daya air yang melimpah, sebagian warga Kabupaten Pasuruan harus menghadapi krisis air setiap musim kemarau. Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun dan pemerintah daerah setempat belum mampu mengatasinya.

Setiap tahun, pemerintah daerah selalu melakukan distribusi air bersih ke puluhan desa yang mengalami krisis. Upaya tanggap darurat bencana kekeringan seperti ini sering terkendala minimnya armada serta anggaran.

"Tahun ini ada penambahan satu armada truk tangki. Jadi dari BPBD 3 armada, Dinas Perkim 1 armada, Dinsos 1 aemada dan PDAM 1 armada. Tentunya kami akan tingkatkan koordinasi dengan pihak swasta dan pihak ketiga agar CSR-nya diarahkan ke distribusi air," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana, Sabtu (15/6/2019).

Bakti menjelaskan terkait anggaran distribusi air, pihaknya belum bisa menentukan karena sifatnya penanganan darurat bencana.

"Anggarannya masih belum dipastikan mengingat kita tidak merencanakan bencana. Sehingga kita menunggu asesmen dari desa terdampak, terdata kebutuhan, baru bisa dilakukan penghitungan anggaran," terang Bakti.


BPBD Kabupaten Pasuruan memetakan 21 desa di 7 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2019 ini. Di 21 desa tersebut terdapat 5.503 Kepala Keluarga (KK) atau 20.968 jiwa rawan terdampak krisis air.

"Desa paling banyak masuk titik rawan kekeringan di Kecamatan Lumbang, Lekok dan Pasrepan," ungkap Bakti.

21 desa yang dipetakan rawan krisis air antara lain, di Kecamatan Lumbang meliputi Cukurguling (550 KK/2.200 jiwa), Karangjati (248 KK/990 jiwa), Karangasem (168 KK/670 jiwa), Watulumbung (236 KK/943 jiwa), Lumbang (277 KK/1.107 jiwa).

Di Kecamatan Lekok meliputi Balunganyar (50 KK/200 jiwa), Pasinan (343 KK/1.373 jiwa), Semedusari (23 KK/90 jiwa), Wates (172 KK/689 jiwa).

Foto: Muhajir Arifin

Di Kecamatan Pasrepan ada 6 desa rawan krisis air bersih, antara lain Sibon (222 KK/886 jiwa), Petung (187 KK/747 jiwa), Klakah (136 KK/544 jiwa), Tambakrejo (25 KK/100 jiwa), Mangguan (1.226 KK/4.905 jiwa), Ngantungan (599 KK/2.396 jiwa).

Kemudian di Kecamatan Winongan, meliputi Jeladri (257 KK/1.028 jiwa), Kedungrejo (279 KK/1.115 jiwa),
Sumberejo (103 KK/412 jiwa). Lalu di Kecamatan Gempol, yakti Bulusari (56 KK/224 jiwa), Wonosunyo 57 (KK/229 jiwa).

Di Kecamatan Kejayan dan Grati masing-masing satu desa masuk peta rawan krisis air, yakni Kedungpengaron 259 KK/1.039 jiwa dan Karangloh (30 KK/120 jiwa).

"Saat ini belum tahap penyaluran. Masih siaga dan koordinasi," pungkas Bakti.

Untuk diketahui, Kabupaten Pasuruan yang berada di antara Gunung Arjuno dan Bromo memiliki sumber air yang melimpah. Puluhan perusahaan minuman dalam kemasan memanfaatkan kekayaan air di daerah ini. Selain itu banyak pengusaha air tangki yang melakukan pengeboran dan mendistribusikan air ke berbagai kota di Jawa Timur.

Proyek raksasa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan yang akan menyalurkan air ke 5 daerah yakni Kabupaten dan Kota Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya serta Gresik, juga memanfaatkan kekayaan air di daerag ini, tepatnya sumber mata air Umbulan di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan.




Simak Juga 'SPAM Umbulan Dibangun, Krisis Air Bersih Pasuruan Akan Berakhir':

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed