detikNews
Jumat 14 Juni 2019, 13:01 WIB

Kemeriahan Tradisi Kebo-keboan Syawal dan Perang Air di Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Kemeriahan Tradisi Kebo-keboan Syawal dan Perang Air di Banyuwangi Tradisi kebo-keboan di Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Warga Banyuwangi memiliki tradisi mengakhiri Lebaran atau Syawalan setiap tahun. Ratusan warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, itu menggelar tradisi Kebo-Keboan. Kerbau jadi-jadian yang diperankan pemuda setempat diarak keliling kampung lengkap dengan "singkal" atau alat pembajak sawahnya.

Prosesi arak-arakan juga diwarnai perang air antara warga kampung, saling siram air ini menambah keseruan tradisi, sekaligus untuk mengenang leluhur mereka yang telah berhasil membuka lahan pertanian di Boyolangu untuk pertama kalinya.

Sebelum dimulainya tradisi ini, tiruan kepala kerbau ditempatkan di atas makam Buyut Kapluk yang diyakini sebagai putra Buyut Jakso yang telah berhasil membuka lahan pertanian di Boyolangu untuk pertama kalinya. Setelah itu, tiruan dua kepala kerbau dipasangkan pada dua orang pemeran kebo-keboan untuk diarak keliling kampung beserta ratusan warga.

"Tradisi ini digelar untuk menghargai perjuangan leluhur yang berjasa besar bagi warga setempat. Kampung setempat yang dulunya hutan belantara kini bisa dimukimi warga dan juga bisa dijadikan lahan pertanian yang subur," ujar Dharma, Ketua Pemuda Boyolangu kepada detikcom saat dikonfirmasi, Jumat (14/6/2019).

Arak-arakan ini dimulai dari perbatasan desa hingga pusat desa. Dua pemain kebo-keboaan yang setengah kesurupan ini tampak kegirangan ketika terkena air selayaknya kerbau yang sesungguhnya.


"Di setiap perempatan kampung dua kerbau jadi-jadian ini berhenti dan memutar-memutar. Ini memiliki arti kerbau yang sedang membajak sawah," tambahnya.

Saat diarak, warga tak segan menggoda dua kerbau jadi-jadian ini dengan menyiram dengan air. Dari sinilah masing-masing warga membawa air untuk perang air. Meski harus berbasah-basahan warga tampak antusias mengikuti tradisi ini hingga usai.

"Air yang disiram tadi merupakan lambang keberkahan. Kalau bertani tak ada air ya sudah tidak akan bisa bertani," pungkasnya.

Rofik, salah satu pengunjung asal Genteng mengaku baru pertama kali melihat ritual tradisi tersebut. Sebab menurutnya hanya dua lokasi tradisi kebo-keboan di Banyuwangi. Namun ternyata di barat Kota Banyuwangi juga memiliki adat ini. Mengenai perang air, dirinya mengaku takjub dengan semangat warga menghidupkan kembali tradisi ini. Sebab hal ini tidak kalah dengan kegiatan yang sama dilakukan saat ini.

"Kalau saat ini kan ada lari yang disiram pakai pewarna. Itu kan khas India. Ternyata leluhur kita juga punya juga dengan media air. Dan ini kata warga sekitar memiliki makna juga. Memang Banyuwang dikenal daerah agraris. Sehingga ritual semacam ini banyak juga digelar pada bulan Suro. Alasmalang dan Aliyan yang lebih terkenal dulu," tambahnya.

Dalam iring-iringan arak-arakan juga diikuti kesenian tradisional lainnya. Tradisi yang dikemas dalam suasana suka cita ini diharapkan mampu menjadi ajang silaturahmi antar warga agar tetap kompak dalam membangun desa setempat. Tradisi ini sekaligus sebagai sarana warga agar tidak begitu saja melupakan jasa leluhur mereka agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed