Garap Buah Naga Semi Organik, Petani di Banyuwangi Untung Ratusan Juta

Ardian Fanani - detikNews
Selasa, 11 Jun 2019 08:49 WIB
Bupati Anas di kebun buah naga/Foto: Ardian Fanani
Bupati Anas di kebun buah naga/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Petani di Banyuwangi mampu menghasilkan buah naga yang lebih berkualitas. Dengan buah naga semi organik, petani tersebut meraup untung ratusan jutaan rupiah.

Produksi buah naga semi organik di Banyuwangi selama Ramadhan dan libur Lebaran cukup melimpah. Para petani buah naga di Kecamatan Bangorejo tersenyum karena saat ini harga buah naga sedang tinggi-tingginya.

Salah satu petani Tarmijan memiliki 2 hektare kebun buah naga di Kecamatan Bangorejo. Dalam satu hektare ia bisa meraup omzet Rp 360 juta/ tahun.

"Setiap panen buah naga kami langsung kirim ke Jakarta, juga ke supermarket dan toko-toko buah di Surabaya. Berapa pun yang kita kirim pasti akan dibeli mereka, karena buah naga saya semi organik," kata Tarmijan.

Dalam setahun, Tarmijan menangguk hasil yang lumayan besar. Dia menjelaskan, dalam satu hektare bisa menghasilkan 24.000 kg.


"Kalau diambil rata-rata harga buah naga Rp 15 ribu, dalam satu hektare bisa menghasilkan Rp 360 juta. Sementara ongkos produksinya sekitar Rp 110 juta. Jadi hasilnya lumayan," ujar Tarmijan sembari tersenyum.

Dengan asumsi harga Rp 15 ribu per kg tersebut, Tarmijan untung Rp 250 juta. Untung Tarmijan bisa dipastikan bertambah karena harga buah naga semi organiknya mencapai Rp 25 sampai Rp 30 ribu per kg.

"Ini sebenarnya belum masuk masa panen. Tapi ada pendekatan teknologi pertanian sederhana untuk bisa mempercepat hasil panen. Jadi sekarang kami masih bisa panen meskipun belum masuk panen raya," ujar Tarmijan.

Pendekatan teknologi pertanian yang dimaksud Tarmijan ialah menggunakan lampu sebagaimana banyak dilakukan oleh petani buah naga lainnya. Lampu itu berfungsi untuk mendorong proses pembuahan.

"Kalau pakai lampu itu bisa berbuah sepanjang tahun, tidak menunggu musim. Kalau musim kan biasanya dalam setahun hanya berbuah selama enam bulan. Namun kalau pakai lampu, sepanjang tahun terus berbuah," papar Tarmijan.


Selain itu, untuk melakukan perawatan terhadap tanah, Tarmijan dan sejumlah petani buah naga lainnya memanfaatkan teknologi sederhana yang diberi nama SIPLO (Sistem Intensifikasi Potensi Lokal). Alat tersebut berfungsi untuk ionisasi pada tanah, sehingga unsur hara terserap maksimal oleh tanaman.

"Alatnya dialiri listrik, kemudian ujungnya kabel lainnya dimasukkan ke tanah yang basah," ungkap Koordinator dan Pemasaran SIPLO Hera Fatmawati, yang juga merupakan putri kandung Tarmijan.

Dengan teknologi itu, buah naga yang dihasilkan memiliki kandungan residu logam berat di bawah standard SNI yang sudah diuji di laboratorium Sucofindo.

"Ini baru saja kita gunakan. Kualitas dan mutu buah naga yang dihasilkan meningkat," urai Hera.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menemui para petani buah naga berharap inovasi tersebut terus dikembangkan. "Dinas Pertanian telah saya meminta memperkuat pendampingan. Ayo beralihnya ke semi organik dan organik karena harganya pasti akan jauh lebih mahal dibanding yang biasa," ujar Anas. (sun/fat)