Mengenal Tundik, Ritual Magis Seblang Desa Olehsari Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 10 Jun 2019 16:17 WIB
Ritual Magis Seblang di Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Ritual Seblang yang digelar di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi merupakan ritual paling panjang dihelat. Betapa tidak, ritual yang dibawakan penari dalam keadaan tidak sadar itu digelar selama seminggu penuh. Dalam ajang itu, juga digelar ritual 'Tundik' atau menari bersama penari Seblang.

Tundik dilakukan saat penari Seblang membawa sampur (selendang) untuk mengajak penonton menari. Selendang itu kemudian digulung penari Seblang, kemudian dilempar ke kerumunan penonton. Yang mendapatkan selendang itu kemudian wajib naik ke atas meja di panggung, lokasi penari Seblang menunggu penonton yang ditunjuknya melalui lemparan selendang itu.

"Yang mendapat lemparan selendang wajib naik ke meja. Jika tidak nanti malah kena sebel atau malah kena malapateka. Selain itu juga roh yang merasuki penari Seblang bisa ngambek dan tidak melanjutkan ritual," ujar Anshori, Ketua Adat Desa Olehsari, Kecamatan Glagah kepada detikcom, Senin (10/6/2019).

Menurut Anshori, penari Seblang melempar selendang itu memaknai roh halus leluhur ingin berinteraksi dengan penonton. Oleh karena itu sangat tidak bijak menolak ajakan menari diatas meja tersebut. Menurut kepercayaan selendang atau sampur itu merupakan ilham dari leluhur.

"Secara filosofi itu jika ketiban sampur itu sama saja mendapatkan ilham. Menari di atas meja itu berarti kan ada di ketinggian. Artinya jangan sampai lupa dan lihatlah ke bawah," tambahnya.


Ada beberapa tahapan dalam ritual tersebut. Sebelum acara dimulai, diawali dengan pawang membawa penari ke pentas, untuk memasang mahkota berupa omprok yang dihiasi janur kuning dan beberapa macam bunga segar di atasnya. Setelah itu para pawang membacakan mantra untuk memasukkan roh Sang Hyang ke dalam tubuh sang penari.

Untuk menarikan Seblang, seorang penari harus kerasukan roh dari leluhur. Proses masuknya roh ini diiringi 28 lantunan gending, yang diawali Gending Lukinto. Gending ini dipercaya oleh masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah atau sebuah kekuatan halus untuk datang ke ritual seblang.

Setelah penari kerasukan, selanjutnya pertunjukan dilanjutkan dengan iringan gending-gending Using lainnya seperti gending Liliro Kantun, Cengkir Gadhing, Padha Nonton Pupuse, Padha Nonton Pundak Sempal, Kembang Menur, Kembang Gadung, Kembang Pepe, dan Kembang Dermo. Pada saat gending Kembang Dermo ini dibawakan, penari Seblang membawa tampah yang berisi bunga yang bernama Bunga Dermo.

Ansori menjelaskan, Seblang berarti menghilangkan pengaruh buruk. Karena itu gaya tarian ini membuang tangan ke kanan atau ke kiri. "Seblang ini kalau ikut bahasa Using singkatan dari Sebele Ilang (hilang sialnya-red). Jadi, biar semua hal yang tidak menyenangkan seperti penyakit dan bala-bala lain yang tidak menyenangkan ini hilang, dan berharap kemakmuran," ujar Anshori.

Penari Seblang harus gadis muda, seorang perempuan yang ditunjuk leluhur melalui mediasi. Seblang akan menari-nari dengan mata tertutup selama 7 hari berturut-turut, yang biasanya dimulai pukul 14.00 hingga menjelang Maghrib.

Untuk tahun ini, sang penari Seblang adalah Susi Susanti (17) warga setempat. Bocah tersebut melakoni peran Seblang selama dua tahun berturut-turut. Susi adalah generasi ke 29 dimana penarinya sama dengan tahun sebelumnya. (fat/fat)