detikNews
Selasa 28 Mei 2019, 21:05 WIB

Hari Terakhir, Ribuan Warga Serbu Penukaran Uang Baru

Adhar Muttaqin - detikNews
Hari Terakhir, Ribuan Warga Serbu Penukaran Uang Baru Antrean warga tukar uang baru (Foto: Adhar Muttaqin)
Tulungagung - Ribuan warga Tulungagung menyerbu loket penukaran uang baru yang disediakan Bank Indonesia dan sejumlah bank pemerintah. Ini bersamaan dengan hari terakhir penukaran uang pecahan baru untuk menghadapi lebaran.

Warga saling berebut kupon yang disediakan oleh masing-masing bank di GOR Lembu Peteng Tulungagung. Setiap warga hanya dapat menukarkan uang maksimal Rp 3,7 juta, untuk pecahan Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu dan Rp 2 ribu.

"Ini merupakan penukaran hari terakhir, baik yang di bank maupun melalui kas keliling. Penukaran seperti ini kami laksanakan 7-28 Mei," kata Asisten Direktur Bank Indonesia perwakilan Kediri, Nasrullah, Selasa (28/5/2019).


Selama periode penukaran, terdapat 69 loket yang disediakan oleh masing-masing kantor cabang bank di seluruh area Bank Indonesia Perwakilan Kediri di eks Karesidenan Kediri dan Madiun. Serta loket kantor kas keliling yang melayani masyarakat umum maupun kalangan terbatas.

"Jumlah yang kami sediakan tahun ini ada sekitar Rp 6,1 triliun atau mengalami kenaikan dari tahun laku Rp 5,2 triliun," ujarnya.

Peningkatan jumlah pasokan yang baru tersebut disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan perekonomian di masing-masing kabupaten dan kota di area kerjanya.


Meski demikian, Nasrullah mengaku, program penukaran uang baru secara keliling tidak mampu untuk memenuhi seluruh permintaan masyarakat. Hal ini terjadi lantaran keterbatasan armada serta personel lapangan.

"Kami berusaha melakukan pelayanan masyarakat semaksimal mungkin untuk kebutuhan uang tunai. Namun kami juga tidak lupa mendorong masyarakat untuk menggunakan uang non tunai, lebih aman, lebih hemat," imbuhnya.


Lebaran Bisa Picu Inflasi

Nasrullah menambahkan, tingginya jumlah uang tunai di masyarakat pada momen lebaran dinilai bisa memicu terjadinya inflasi. Hal ini bisa terjadi apabila jumlah permintaan barang lebih sedikit dibanding uang yang beredar.

"Artinya ketika uang tunai yang beredar banyak, maka otomatis konsumsi masyarakat juga akan meningkat. Nah masalahnya apabila permintaan tinggi namun jumlah barang terbatas, ini bisa memicu kenaikan harga sehingga inflasi," jelasnya.

Untuk menekan laju inflasi tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja. Uang Tunjangan Hari Raya (THR) serta gaji tidak seyogyanya dihabiskan untuk kebutuhan hari raya.

"Yang perlu diingat, habis lebaran masih ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, apalagi ini bersamaan dengan momen masuk sekolah, sehingga kebutuhan masih banyak," kata Nasrullah.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed