detikNews
Minggu 26 Mei 2019, 22:07 WIB

Pakaian Adat Lamongan Resmi Dikenalkan di Hari Jadi ke-450

Eko Sudjarwo - detikNews
Pakaian Adat Lamongan Resmi Dikenalkan di Hari Jadi ke-450 Yak dan Yuk kenakan pakaian has Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Ada yang berbeda pada puncak peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-450.Lamongan secara resmi memperkenalkan ke publik pakaian khas Lamongan. Tak hanya memperkenalkan ke publik, Pakaian Khas Lamongan ini juga dikenakan oleh semua peserta kirab HJL.

Ketua Umum Panitia Peringatan HJL ke 450, Yuhronur Efendi menjelaskan, elemen khas dari Busana Adat Khas Lamongan ini adalah penggunaan batik Singomengkok dan desain kebaya yang bernuansa Islam dimana kebaya dibuat hingga ke lutut.

"Termasuk penggunaan hijab yang semakin mengentalkan nuansa tersebut," ujar Yuhronur kepada wartawan, Minggu (26/5/2019).


Yuhronur menambahkan, Busana Adat Khas Lamongan ini juga merupakan perpaduan sejumlah budaya lokal. Seperti pengaplikasian kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adattambal sewu di Desa Sambilan Kecamatan Mantup.

Sementara pengaplikasian Batik Singomengkok pada udeng dan sembong pada busana pria serta jarit pada busana perempuan sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Lamongan di wilayah utara.

"Desain batik ini terinspirasi dari Gamelan Singomengkok yang digunakan Sunan Drajat dalam berdakwah," jelasnya.

Selain itu, untuk melengkapi Busana Adat Khas Lamongan yang akan diperkenalkan saat Kirab HJL ke-450 ini juga dilengkapi aksesori bros untuk kebaya yang menggunakan model teratai berjuntai dengan motif gunungan yang ada di Sendang Dhuwur.


"Nanti jika dalam setiap undangan resmi tercantum pakaian yang dikenakan adalah PKL, Bapak dan Ibu jangan bingung, PKL adalah Pakaian Khas Lamongan. Karena itu adalah busana adat kita, yang secara resmi kita kenalkan hari ini," tambah Bupati Lamongan, Fadeli yang menyebut memiliki busana adat khas sendiri sangat penting bagi Lamongan yang memiliki sejarah besar di masa lampau sejak era Airlangga, Majapahit, hingga Sunan Giri dan Sunan Drajat.

Sementara, Puncak HJL Lamongan ditandai dengan pembukaan selubung pataka lambang daerah di Gedung DPRD. Pataka itu kemudian dikirab keliling Kota Lamongan. Masyarakat cukup antusias menyambut kirab di sepanjang jalan.

Karena panitia menyuguhkan delapan kesenian tradisional di setiap perempatan yang dilalui rombongan kirab. Ribuan takjil gratis juga dibagikan pada masyarakat yang hadir. Puncak acara HJL dilakukan di Pendopo Lokatantra Lamongan dengan digelarnya Pasamuan Agung.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed