DetikNews
Minggu 26 Mei 2019, 04:07 WIB

Lamongan Bertambah Usia, Makam Mbah Lamong Jadi Jujugan Pertama Ziarah

Eko Sudjarwo - detikNews
Lamongan Bertambah Usia, Makam Mbah Lamong Jadi Jujugan Pertama Ziarah Nyekar di Makam Mbah Lamong (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Lamongan akan memperingati hari jadinya ke-450 pada 26 mei mendatang. Salah satu makam yang selalu menjadi jujugan ziarah untuk mengawali prosesi peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) dan juga jujugan warga yang ingin ngalap berkah adalah makam Mbah Lamong yang berada di Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan. Siapakah Mbah Lamong?

Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan mengatakan, Pemkab Lamongan memang setiap tahun selalu memulai prosesi peringatan HJL dengan berziarah ke makam leluhur. Ziarah makam leluhur ini, menurut Agus, dilakukan sebagai wujud bakti pada leluhur agar semangat juang leluhur tetap terus menjadi cermin bagi generasi saat ini.

"Lamongan tidak akan bisa seperti saat ini tanpa mereka yang telah mendahului kita ini," kata Agus dalam perbincangannya dengan detikcom, Sabtu (25/5/2019).

Agus menuturkan, di Kelurahan Tumenggungan ada 3 makam yang menjadi jujugan untuk diziarahi, yaitu Makam Mbah Punuk, Mbah Sabilan, dan Mbah Lamong. Terbentuknya Lamongan sebagai kabupaten, lanjut Agus, tidak lepas dari santri kesayangan Sunan Giri II bernama Hadi, pemuda asal Desa Cancing, Ngimbang, Lamongan yang oleh Sunan Giri kemudian diberi tugas untuk menyebarkan ajaran Islam ke barat Kasunanan Giri.


"Karena keberhasilannya dalam berdakwah, Hadi mendapat pangkat Rangga yang berarti pejabat," terangnya.

Keberhasilan dan cara dakwah Rangga Hadi dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan, lanjut Agus, membuatnya dicintai masyarakat yang kemudian menyematkan julukan Mbah Lamong lantaran sifat mengasuh dan melayani masyarakat yang benar-benar membekas.

"Dengan pertimbangan matang, akhirnya Sunan Giri IV (Sunan Prapen) mengumumkan wilayah kerangga Lamongan ditingkatkan menjadi kadipaten pada tanggal 26 Mei 1569, Rangga Hadi lantas diwisuda menjadi adipati Lamongan pertama yang diberi gelar Tumenggung Surajaya," ungkap Agus.

Makam Rangga Hadi berada di sebelah utara Musala Mbah Lamong yang berada di tengah permukiman penduduk yang ada di Kelurahan Tumenggungan dengan juru kunci Mbah Irsyad. Pada HJL kali ini, aku Agus, selain menggelar ziarah dan tabur bunga, jajaran Forkompinda Lamongan juga menggelar acara potong tumpeng dan buka puasa bersama warga Tumenggungan.

"Dengan sejarah yang demikian inilah, makanya pada setiap hajatan HJL, kami jajaran Forkompinda Lamongan selalu berziarah dan tabur bunga di Makam Mbah Lamong," aku Agus.

Sementara, salah seorang warga Tumenggungan, Faisol mengaku, makam Mbah Lamong hanya dibuka pada saat-saat tertentu, yaitu pada malam Jumat. Di luar hari Jumat, Menurut Faisol, makam Mbah Lamong hanya dibuka pada hari-hari khusus seperti pada momen HJL ini.


"Kalau dibuka selalu ramai dengan pengunjung, apalagi pas sebelum pemilu kemarin," aku Faisol.

Puncak peringatan HJL ke 450 sendiri akan dilakukan pada Minggu (26/5/2019) dengan menggelar kirab budaya yang akan dimulai sejak pukul 13.00. Prosesi itu diawali upacara pemasangan oncer sesanti lambang daerah oleh ketua DPRD Lamongan, diserahkan kepada bupati Lamongan untuk dikirab dengan rute kirab dari gedung DPRD ke arah Masjid Al-Azhar.

Belok kiri menuju perempatan PLN lama, belok lagi ke perempatan Sidoharjo. Selanjutnya, ke arah gedung IPHI menyusuri Jalan Suwoko, belok ke barat perempatan family, dilanjutkan ke pendapa, Acara pasamuan agung, penyemayaman lambang daerah di Pendapa Lokatantra.

Kirab budaya juga akan dirangkai dengan pawai menggunakan baju adat Lamongan dengan dimeriahkan berbagai macam kesenian daerah Lamongan serta pembagian takjil di sepanjang rute kirab.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed