detikNews
Kamis 23 Mei 2019, 05:03 WIB

Kiai Nawawi, Syuhada Sejati yang Gugur Pertahankan Kemerdekaan RI

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kiai Nawawi, Syuhada Sejati yang Gugur Pertahankan Kemerdekaan RI Makam Kiai Nawawi/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Nama KH Nawawi akrab di telinga masyarakat Kota Mojokerto. Selain getol menyebarkan ajaran Islam, ulama yang satu ini dikenal karena pengorbanannya melawan tentara Belanda.

Kisah perjuangan Kiai Nawawi salah satunya dikupas dalam buku 'Titik Akhir di Sumantoro-Jejak Langkah Perjuangan KH Nawawi'. Buku terbitan Maret 2012 ini ditulis Abdullah Masrur, pemerhati sejarah di Mojokerto.

Kiai Nawawi lahir di keluarga sederhana tahun 1886 silam. Kedua orang tuanya, Munadi dan Siti Khalimah tinggal di Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Ayahnya dikenal sebagai tukang kayu yang sangat menghormati para ulama.

Saat usianya 7 tahun, Muhammad Nawawi mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School Partikelir (HIS P) atau setara Sekolah Dasar. Oleh ayahnya, Nawawi diantarkan untuk menunut ilmu dari KH Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang. Setelah itu, dia menuntut ilmu ke sejumlah kiai. Yaitu Kiai Khosin di Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Sholeh di Mojosari Mojokerto, Kiai Zainuddin di Nganjuk, serta Kiai Kholil di Kademangan, Bangkalan.

"Selama nyantri di Tebuireng, Nawawi remaja dikenal paling rajin mengikuti pelajaran dari para ustaznya. Total dia nyantri selama 15 tahun," tulis Masrur seperti yang dikutip detikcom, Rabu (22/5/2019).

Setelah belasan tahun menuntut ilmu, Kiai Nawawi kembali ke Mojokerto. Dia dijodohkan dengan Nasifah, putri sahabat ayahnya warga Dusun Mangunrejo, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Kiai Nawawi menikah di usia 28 tahun, yaitu pada 1914.


Untuk menafkahi keluarganya, Kiai Nawawi membuka usaha penjahitan. Dia mengontrak sebuah rumah di Jalan Majapahit, Kota Mojokerto. Bisnis yang dia tekuni pun berkembang pesat. Bahkan Kiai Nawawi terkenal sebagai penjahit terbaik di Kota Onde-onde. Selain ongkosnya lebih murah, jahitan Kiai Nawawi rapi.

"Karena bisnisnya semakin lancar, Kiai Nawawi membeli pekarangan di Jalan Gajah Mada No 118. Dia membangun rumah dan musala di tempat itu. Musala itu dia gunakan untuk mengajar ngaji masyarakat sekitar. Rumah itu kemudian ramai tamu, seperti Dokter Sukandar, Bupati Mojokerto pun mengaji ke dia. Tamu lainnya minta doa penangkal santet, ada juga doa agar punya anak cerdas," terang Masrur.

Kiai Nawawi dan teman-temannya mendirikan cabang Jam'iyah Nahdlatul Ulama Mojokerto tahun 1928. Kala itu dia menjabat pengurus Syuriah bersama H Zaenal Alim. Selama menjadi pengurus NU, Kiai Nawawi rajin keliling dari surau ke surau di wilayah Kabupaten Mojokerto untuk menyebarkan ajaran Islam.
Ponpes An-Nawawy/Ponpes An-Nawawy/ Foto: Enggran Eko Budianto
Dia menjadi utusan dari Mojokerto dalam Muktamar NU di Banjarmasin, Kalsel tahun 1936. Sepulang dari muktamar, Kiai Nawawi menggagas pembangunan madrasah di Kota Mojokerto. Madrasah tersebut kini menjadi MI Al Muhsinun di Kauman Gang 3, Kecamatan Prajurit Kulon.

"Saat Jepang tiba di Mojokerto tahun 1943, Kiai Nawawi menyamarkan kegiatan Jam'iyah NU menjadi Ahlusunnah Wal Jamaah. Selain menyebarkan ajaran Islam, dia juga mengajak masyarakat melawan penjajah. Ajaran beliau Cinta Tanah Air dan bangsa bagian dari iman," tulis Masrur.

Perjuangan mengangkat senjata mulai dilakukan Kiai Nawawi saat tentara sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris, Gurkha dan Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Saat itu Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya setelah Jepang hengkang. Pada Oktober 1945, pasukan sekutu berhasil mendesak mundur para pejuang dari Kota Pahlawan Surabaya.


Wali Kota Surabaya kala itu, Rajiman Nasution datang ke markas Hizbullah di utara alun-alun Kota Mojokerto. Dia meminta bantuan para kiai karena tentara sekutu akan masuk ke Mojokerto dan Sidoarjo. Saat itulah Kiai Nawawi menjadi orang pertama yang siap berangkat ke barisan terdepan medan pertempuran. Dia lantas diberangkatkan bersama KH Mansur, KH Abdul Jabar, KH Ridwan dan beberapa pemuda. Mereka bergabung dengan kiai dari daerah lain di bawah pimpinan Kiai Hasan Bisri.

"Kiai Nawawi memimpin perang melawan Belanda di Surabaya, di front-front Sepanjang, Kedurus, Kletek dan berakhir di Dukuh Sumantoro, Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo," ungkap Masrur dalam bukunya.

Selama berperang melawan sekutu, Kiai Nawawi dikenal tak takut dengan peluru. Konon dia membekali santrinya hanya dengan 7 batu kerikil. Namun butiran batu itu bisa meledak layaknya granat tangan. Cerita lainnya, Kiai Nawawi mampu mengejar musuh hanya dengan sebuah payung. Bahkan dengan sorbannya, dia mampu menangkis hujan peluru dari tentara sekutu.

Meski dikenal mempunyai kesaktian, Kiai Nawawi akhirnya gugur di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan, Sukodono, Sidoarjo pada 22 Agustus 1946. Saat itu dia dikeroyok oleh serdadu Belanda. Hujaman pisau bayonet tentara musuh sebanyak 4 kali merenggut nyawa syuhada asal Mojokerto tersebut. Pasukan Hizbullah yang datang membantu berhasil membunuh serdadu kompeni Belanda.

"Jenazah Kiai Nawawi langsung dibawa lari pasukan Hizbullah menuju ke Stasiun Krian. Kemudian diangkut dengan kereta api ke Stasiun Mojokerto. Jenazah dibawa ke rumah duka yang kini menjadi Pondok Pesantren An Nawawiyah di Jalan Gajah Mada No 118," ulas Masrur.

Kabar gugurnya Kiai Nawawi seketika menyebar ke seluruh Mojokerto. Ribuan orang mengantarkan jenazahnya menuju ke peristirahatan terakhir di Makam Umum Lingkungan Mangunrejo di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Makam ulama dan syuhada ini menjadi satu dengan makam warga lainnya di pemakaman tersebut.

Karena jasanya, nama Kiai Nawawi diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kota Mojokerto. Jalan KH Nawawi menghubungkan Jalan Bhayangkara dengan Jalan Residen Pamudji. Penetapan Jalan KH Nawawi berdasarkan Keputusan DPRD Kota Mojokerto No 8/DPRD/67 tanggal 30 Maret 1967.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed