DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 14:18 WIB

Sambut Waisak, Patung Budha Tidur di Maha Vihara Mojopahit Dimandikan

Enggran Eko Budianto - detikNews
Sambut Waisak, Patung Budha Tidur di Maha Vihara Mojopahit Dimandikan Patung Buddha tidur dimandikan (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Umat Buddha di Mojokerto mulai melakukan berbagai persiapan untuk merayakan Waisak yang jatuh Minggu (19/5) nanti. Salah satunya dengan menggelar tradisi memandikan patung Buddha tidur raksasa di Maha Vihara Mojopahit. Patung ini menjadi yang terbesar di Indonesia.

Sejumlah pria berkaus putih nampak sibuk di atas patung Buddha tidur. Menggunakan spons busa dan air sabun, mereka menggosok setiap bagian patung raksasa ini. Pria lainnya membilas bagian patung yang sudah digosok dengan selang air.

"Tradisi memandikan patung Buddha tidur ini sebagai persiapan Waisak. Filosofinya kepada pribadi manusia. Setiap akan membersihkan kegiatan-kegiatan ritual kita membersihkan diri, baik lahir maupun batin," kata Pandita Maha Vihara Mojopahit Sariyono kepada wartawan di lokasi, Jumat (17/5/2019).

Patung Buddha tidur ini berada di dalam kompleks Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Letaknya persis di sebelah selatan gedung Sasono Bhakti.

Patung yang dibangun tahun 1993 oleh Yayasan Lumbini ini masih menjadi yang terbesar di Indonesia. Patung Buddha ini mempunyai dimensi panjang 22 meter, lebar 6 meter, serta tinggi 4,5 meter. Meski berwarna emas, patung ini terbuat dari cor beton.

Pembangunannya sendiri diinisiasi oleh Bhikkhu Viriyanadi Maha Tera sekitar 4 tahun setelah Maha Vihara Mojopahit selesai dibangun. Tak tanggung-tanggung, pembuatan patung Buddha raksasa ini melibatkan para seniman dari Solo, Jateng dan seniman lokal Trowulan. Patung yang awalnya putih, tahun 1999 dicat menggunakan warna emas.

"Karena warna emas simbol dari kemuliaan," ujar Pandita Sariyono.

Sariyono menjelaskan, patung Buddha tidur atau sleeping Budhist ini adalah sosok Siddharta Gautama atau Budha Gautama. Menurut dia, sesungguhnya patung raksasa ini menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama. Dalam ajaran Buddha, posisi ini disebut Budha Mahaparinibbana.

"Wafatnya memang dengan posisi seperti saat beliau tidur sehari-hari, yaitu miring ke kanan," ungkapnya.


Foto: Enggran Eko Budianto


Sariyono mengisahkan, Buddha Gautama lahir dengan nama Siddharta Gautama di Taman Lumbini, India sekitar tahun 623 sebelum masehi (SM). Dia merupakan putra mahkota dari Kerajaan Kosala, yaitu kerajaan kuno di India.

Siddharta lantas mendapatkan pencerahan di hutan gaya saat bertapa di bawah pohon bodhi tahun 588 SM. Sang Budha wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, India. Peristiwa kelahiran, mendapatkan pencerahan dan wafatnya Sang Buddha rutin diperingati sebagai Hari Raya Waisak.

"Waktu ketiga peristiwa itu sama, yaitu pada purnama sidi di bulan Waisak," terang Pandita Sariyono.

Bangunan yang menjadi tumpuan patung Buddha tidur dihiasi dengan relief yang juga dicat dengan warna emas. Relief ini mengelilingi permukaan bangunan tersebut.

"Relief bagian depan mengisahkan perjalanan Budha mengajarkan ajarannya saat detik-detik wafatnya. Kalau bagian belakang terkait ajaran sebab akibat atau hukum karma," jelas Pandita Sariyono.

Selain Buddha tidur, patung-patung lainnya di dalam kompleks Maha Vira Mojopahit juga dibersihkan untuk menyambut Waisak. Jumlahnya lebih dari 20 patung.

Pandita Sariyono menambahkan, purnama sidhi pada perayaan Waisak tahun ini jatuh Minggu (19/5) pukul 04.11 WIB. Umat Buddha akan menggelar upacara keagaaman di Maha Vihara Mojopahit sejak pukul 02.30 WIB. Mulai dari pradaksina atau mengelilingi lingkungan vihara, hingga meditasi pada detik-detik purnama sidhi.

"Saat detik-detik purnama sidhi itu kami meditasi karena menjadi momen paling sakral," tandasnya.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed