DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 10:11 WIB

Round-up

Tentang Mutilasi Pasar Besar Malang yang Pelakunya Diduga Gangguan Jiwa

Suki Nurhalim - detikNews
Tentang Mutilasi Pasar Besar Malang yang Pelakunya Diduga Gangguan Jiwa Sugeng Santoso/Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Pelaku mutilasi di Pasar Besar Malang Sugeng Santoso diduga mengidap gangguan jiwa. Sementara polisi masih berusaha mengungkap identitas korban dengan menyebar sketsa.

Kamis (16/5), tim identifikasi Polres Malang Kota membuat sketsa wajah korban mutilasi di Pasar Besar, Kota Malang. Itu dilakukan untuk mengungkap identitas perempuan yang diperkirakan berusia 34 tahun itu.

"Kami buat sketsa berdasarkan identifikasi fisik dari jasad korban. Harapannya bisa membantu untuk mengungkap identitas korban," kata Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri kepada detikcom di Mapolres Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Asfuri berharap siapapun yang mengenal ciri-ciri dari sketsa wajah yang dibuat, bisa segera melapor kepada polisi. "Jika ada yang kenal dengan ciri-ciri pada sketsa bisa segera melapor kepada kami," imbuh Asfuri.

Di lain pihak, Tim Labfor Polri cabang Surabaya menggelar olah TKP. Petugas turut membawa serta Sugeng Santoso (49), pria yang diduga kuat sebagai pelaku mutilasi.


Asfuri menyatakan, kehadiran Tim Labfor Bareskrim Polri untuk menguji sampel darah yang berada di lokasi kejadian. Langkah ini bertujuan untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.

"Apakah meninggal karena sakit, sesuai keterangan pelaku atau meninggal dibunuh dan kemudian dimutilasi. Labfor bekerja untuk memastikan itu," tambah Asfuri.

Sementara Sugeng, pria yang diduga pelaku mutilasi dikenal warga memiliki gangguan jiwa. Karenanya sifat keseharian Sugeng nampak berbeda. Itu sudah ditunjukkan ketika tinggal di wilayah Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Sebelum menjadi pria tanpa tempat tinggal tetap, Sugeng sempat menetap di kawasan Jodipan Wetan Gang III, tepatnya di RT0 4/RW 06 Kelurahan Jodipan. Di sana Sugeng dulunya tinggal bersama keluarganya.

"Memang ada yang berbeda, meski Sugeng terlihat pendiam. Beberapa kejadian menunjukkan jika dia (Sugeng) tidak normal. Pernah akan bakar rumahnya, pukul kepala bapaknya pakai palu sampai potong lidah pacarnya," kata Ketua RW 06 Kelurahan Jodipan M Lutfi.


Pakar hukum pidana Universitas Brawijaya Prija Djatmiko mengatakan, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah diatur bagaimana seseorang yang disangka melakukan tindak pidana, seperti yang diakui oleh Sugeng.

Berdasarkan pengakuan Sugeng, lanjut Prija, jeratan pasal yang diterapkan adalah Pasal 181 KUHP yang berbunyi 'Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya'.

"Dalam pasal itu, pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan. Artinya tidak bisa dilakukan penahanan. Jika mengacu kepada keterangan atau pengakuan terduga pelaku (Sugeng) kepada polisi," ujar Prija dihubungi detikcom.

Menyinggung pada kondisi kejiwaan terduga pelaku, Prija memandang majelis hakim nanti akan memberikan keputusan, kemungkinan besar mengarahkan agar pelaku menjalani perawatan kejiwaan.

Karena seseorang dalam kondisi tersebut (gila), tak bisa mendapatkan vonis hukum. "Sesuai diatur dalam Pasal 44 KUHP, hakim pasti akan memutuskan untuk menjalani perawatan, karena penyakit yang dialami pelaku. Dengan catatan jika benar demikian kondisinya," pungkas Prija.


Polri Identifikasi Ceceran Darah Korban Mutilasi di Malang:

[Gambas:Video 20detik]


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed