DetikNews
Kamis 16 Mei 2019, 15:58 WIB

Tradisi, Berburu Kue Cucur Ponorogo di Pasar Tumpah Saat Ramadhan

Charolin Pebrianti - detikNews
Tradisi, Berburu Kue Cucur Ponorogo di Pasar Tumpah Saat Ramadhan Suasana di Pasar Ngeprih, Desa Lengkong/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Ada yang berbeda di Pasar Ngeprih, Desa Lengkong, Kecamatan Sukorejo. Setiap sore selama Ramadhan kawasan itu berubah jadi ramai layaknya pasar tumpah.

Puluhan lapak pedagang tampak berjejer di sepanjang jalan desa. Membentang dari barat ke timur. Berbagai menu makanan tersaji di depan meja. Warga Ponorogo yang ingin makan sajian khas Bumi Reog bisa datang ke tempat ini.

Mulai dari jajanan pasar tempo dulu seperti kue cucur hingga aneka sayur, nasi pecel, pepes, es buah, es campur, pentol dan lain-lain. Jika tak sempat memasak, semua menu buka puasa tersedia di sini. Tinggal menyesuaikan dengan kocek atau selera.

Salah satu warga Very Andrianto (30) bahkan sengaja meluangkan waktu datang ke Pasar Ngeprih karena ingin berburu kue cucur khas Lengkong. Menurutnya, kue cucur di sini memiliki citarasa khas. Rasanya manis dan legit pas untuk menggoyang lidah saat berbuka puasa.

"Ini tadi saja saya cuma kebagian 5 kue cucur. Padahal saya sudah antre lama," tuturnya saat ditemui detikcom di lokasi, Kamis (16/5/2019).


Warga harus datang duluan jika ingin beli cucur. Sebab satu jam setelah dibuka yakni pukul 14.30 WIB, makanan ringan berbahan dasar tepung beras itu ludes. Very hanya mendapat beberapa biji saja.

"Dapatnya cuma lima biji saja, ini sekalian pesan biar besok kebagian," imbuhnya.

Warga lainnya Puji Hastuti (57) bahkan membawa serta suami, anak dan cucunya untuk berburu makanan di Pasar Ngeprih. "Iya, hari ini pengen beli makanan. Akhirnya datang ke sini soalnya ramai dan banyak pilihannya," kata warga asal Desa Bancar, Kecamatan Bungkal.

Ketua Karang Taruna setempat Andi Wisnu menjelaskan, ada 35 lapak pedagang di pasar Ramadhan itu. Pengaturannya dikelola oleh para pemuda.


"Siapa saja boleh berjualan di sini asal izin dulu kepada kami," ujar Andi.

Andi menambahkan, jalan desa tersebut dipilih lantaran strategis untuk berjualan. Dari arah kota cukup mengambil arah utara di pertigaan barat jembatan Sekayu. Sementara pengunjung dari arah lainnya juga tidak akan kebingungan mencari tempat tersebut.

"Cukup strategis tempatnya sehingga pengunjung dari mana saja bisa berkunjung ke sini," tambahnya.

Pasar ini, lanjut Andi, diharapkan bisa menjadi salah satu roda ekonomi desa. Diharapkan agar warga memiliki produk dan bisa dijual bersama.

"Tapi sayangnya pasar tumpah ini hanya ada saat Ramadhan saja. Harapannya bisa terus ada dan ramai seperti saat Ramadhan," pungkasnya.
(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed