DetikNews
Rabu 15 Mei 2019, 15:23 WIB

Makam Kanjeng Jimat, Saksi Bisu Sejarah Penyebaran Islam di Pacitan

Purwo S - detikNews
Makam Kanjeng Jimat, Saksi Bisu Sejarah Penyebaran Islam di Pacitan Makam Kanjeng Jimat di Pacitan/Foto: Purwo S
Pacitan - Jalan menanjak menjadi rute awal menuju makam Kanjeng Jimat. Pada 400 meter pertama, jalan berlapis paving. Di kanan kirinya terdapat komplek pekaman umum. Pengunjung dapat menggunakan motor hingga sampai di area parkir.

Selanjutnya, peziarah harus menapaki 180 anak tangga sebelum mencapai puncak Giri Sampurno, tempat bersemayam jasad Kanjeng Jimat. Tokoh yang berperan penting bagi penyebaran Islam di Pacitan. Ia juga dikenal sebagai bupati ketiga di daerah yang juga dikenal dengan sebutan Wengker Kidul.

Setibanya di puncak, sebuah bangunan berbentuk rumah langsung terlihat. Ada pintu utama yang selalu terkunci. Di sebelah kirinya sebuah musala berdiri lengkap dengan tempat wudhu. Tempat ibadah ini diperuntukkan bagi pengunjung yang hendak salat.

Rasa lelah usai menapaki puluhan anak tangga mendadak sirna. Semilir angin di antara rindangnya pepohonan di area setinggi 80 mdpl tersebut membuat tubuh kembali bugar. Begitulah situs sejarah di Dusun Kebonredi, Desa Tanjungsari yang banyak dikunjungi peziarah.


"Biasanya mulai banyak didatangi peziarah menjelang Ramadhan. Terus mulai H+4 lebaran biasanya sudah mulai ramai kunjungan lagi," ucap Agus Jatmiko (50) juru kunci makam ditemui detikcom, Rabu (15/5/2019).

Pada hari biasa pun, lanjut Agus, banyak peziarah yang sengaja datang ke makam tersebut. Mereka berasal dari sejumlah kota di Tanah Air. Bahkan ada pula pengunjung dari manca negara. Umumnya pengunjung memiliki keterkaitan sejarah atau mempunyai rumpun keluarga dari Kabupaten Pacitan.

"Saya pernah memandu pengunjung dari Jepang. Ada juga yang berasal dari Spanyol dan Australia," tutur Agus yang meneruskan amanah ayahnya menjadi juru kunci sejak 2010.

Agus yang konon merupakan keturunan keenam Kanjeng Jimat menjelaskan, perkembangan Agama Islam di Kota 1001 Gua tak dapat dipisahkan dari peran Kanjeng Jimat. Bahkan pria bernama asli Joyo Niman tersebut sempat menjadi penasehat Pangeran Diponegoro saat peristiwa Perang Lesung.

Namanya makin dikenal saat dirinya dipercaya mengemban amanah menjadi Bupati ketiga Pacitan menggantikan Setroketipo, bupati sebelumnya. Gelar Jogokaryo pun melekat selama sang tokoh memangku jabatan tertinggi di belahan pesisir selatan Pulau Jawa.


Mengakhiri jabatan bupati, Joyo Niman mendapat kepercayaan menjaga benda-benda pusaka di Keraton Surakarta. Gelar Kanjeng Jimat sendiri diperoleh bersamaan amanah barunya sebagai punggawa kerajaan tersebut.

Masih menurut Agus, Kanjeng Jimat diyakini berasal dari daerah Arjowinangun. Sebuah perkampungan di timur Sungai Grindulu yang belakangan menjadi kawasan ekonomi. Konon, Kanjeng Jimat dulunya tinggal di sekitar lokasi yang kini menjadi tempat berdirinya Pondok Pesantren Nahdhatus Suban.

"Sampai sekarang belum ada versi baku terkait sejarah Eyang Joyo Niman itu. Makanya saya tidak berani menyebutkan tahun demi tahunnya. Sedangkan versi babat baru dimulai sekitar tahun 1825," katanya Agus yang rutin membersihkan makam tiap hari.

Terlepas banyaknya versi cerita, nama Kanjeng Jimat telah melegenda bersama pesatnya tumbuh kembang agama Islam di Pacitan. Makamnya menjadi jujugan orang. Terutama pada hari-hari tertentu.

Tujuannya pun beragam. Mulai sekadar napak tilas, berziarah, berdoa, hingga aktivitas spiritual lain. Medan menuju lokasi yang cukup menantang juga menjadi rute membakar kalori bagi yang suka olahraga.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed