Seperti data yang dihimpun detikcom, jumlah santri di Ponpes Al Fatah mencapai 17 ribu lebih. Para santri tidak hanya berasal dari berbagai kota di Tanah Air tapi juga datang dari 16 negara di dunia.
Beberapa di antaranya seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia dan Somalia. Kemudian ada yang berasal dari Kamboja, Brunei Darussalam, Papua Nugini, Timor Leste, Bangladesh, India dan Suriname.
"Santrinya tidak hanya dari lokal tapi juga berbagai daerah di Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri," kata salah satu ustaz di Ponpes Al Fatah, Zaenal Abidin kepada detikcom di Masjid Darussalam, Senin (13/5/2019).
Ponpes dengan luas 50 hektare itu, kata Zainal, berada di kampung Madinah. Desa Temboro dijuluki Kampung Madinah karena mayoritas kaum hawa di daerah tersebut mengenakan pakaian berwarna hitam dan bercadar.
Untuk sampai ke ponpes, para santri dari luar kota bisa menggunakan bus umum dan turun di Terminal Maospati, Magetan. Dari terminal tersebut santri bisa menggunakan jasa ojek dan akan menempuh perjalanan 7 km dengan tarif sekitar Rp 20 ribu. Berbeda degan desa lainnya, di sana terdapat mesin ATM hampir semua Bank.
Pesantren Al Fatah mencuri perhatian karena para santri dan warga sekitar ponpes melakukan tarawih selama 8 jam setiap malamnya di Masjid Darussalam. Salat tarawih 8 jam tersebut dibagi menjadi 3 kelompok. Yakni kelompok ustaz dan warga sekitar serta dua kelompok santri.
Satu kelompok memiliki 6 imam setiap malamnya. Mereka akan bergantian membacakan 30 juz Alquran dalam 23 rakaat salat sunah tersebut. Jadi setiap imam kebagian membacakan 5 juz Alquran.
Simak Juga 'Tarawih 8 atau 20 Rakaat ya? Ini Jawabannya!':
(sun/bdh)