DetikNews
Jumat 10 Mei 2019, 20:25 WIB

Safari Ramadhan ke Koarmada Surabaya, Panglima TNI Bicara Polarisasi Bangsa

Deni Prastyo Utomo - detikNews
Safari Ramadhan ke Koarmada Surabaya, Panglima TNI Bicara Polarisasi Bangsa Sambutan kepada Kapolri dan Panglima TNI (Foto: Deny Prastyo Utomo)
Surabaya - Memasuki Ramadhan ke-5 Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Tito Karnavian melakukan safari Ramadhan di Koarmada (Komando Armada) II Surabaya. Kegiatan dipusatkan di Dermaga Ujung, Koarmada II Surabaya.

Kedatangan kedua pemimpin tertinggi TNI dan Polri itu di disambut meriah. Keduanya mendapatkan kalungan surban putih dari polisi dan tentara cilik. Turut menyambut kedatangan kedua pimpiman TNI dan Polri ialah Kasal Laksamana TNI Siwi Sukma Aji dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa serta Wali Kota Surabaya Tri Rismahrini serta istri Wakil Gubernur Emil Dardak, Arumi Bachsin.

Hadi dalam sambutannya mengapresiasi para prajurit TNI dan Polri dalam pengamanan Pemilu 2019.

"Pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2019 baru saja kita laksanakan, selanjutnya walaupun kita masuk dalam tahapan penghitungan sementara, namun saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh prajurit TNI dan Polri, dan penghargaan yang tinggi telah mengamankan pelaksaan pesta demokrasi terbesar di indonesia," kata Hadi dalam sambutannya di Indoor sport, Koarmada II Surabaya, Jumat (10/5/2019).


Hadi juga mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam pemilu 2019 yang berjalan aman, lancar dan damai.

"Saya selaku panglima TNI juga mengapresiasi kepada seluruh eleman masyarakat yang telah berpartisipasi dengan baik dan atas kerjasama kita semuanya, sehingga pemilu tahun 2019 dapat dilaksanakan dengan aman, damai,lancar, sukses dan demokratis," ungkap Hadi.

Dalam Pemilu 2019, Panglima TNI Hadi Tjahjanto mencermati satu hal yakni selama kontestasi politik di Pemilu 2019 terdapat kecenderungan polarisasi masyarakat terkait politik identitas.

"Selama kontestasi politik pemilu 2019 terdapat kecenderungan polarisasi masyarakat Indonesia. Politik identitas telah memperuncing perbedaan dan mengangkat isu kesukuan, agama, serta berbagai kesenjangan yang ada, akibatnya sebagian masyarkat kita, seolah-olah memusuhi dengan sebagian yang lain. Polarisasi semacam itu, hal yang kontradiktif dengan upaya kita membangun bangsa," terang Hadi.

"Para pendiri bangsa ini telah menyadari keanekaragaman kita sejak awal. Oleh karenanya Bhinneka Tungal Ika dipilih sebagai semboyan, berbeda-beda tetap satu,"

Hadi mengatakan Pemilu 2019 ialah pemilihan umum yang paling rumit di dunia. Namun tak juga lepas dari berbagai kekurangan-kekurangannya seperti gugurnya ratusan pahlawan demokrasi.

"Bahkan pahlawan demokrasi yang meninggal dunia, bahkan banyak yang jatuh sakit saat melaksankan tugas yang sangat melelahkan. Hendaknya pengorbanan mereka tidak sia-sia hanya karena kemudian kita tercerai berai," lanjut Hadi.


Hadi menambahkan kekurangan itu agar ke depannya bisa menjadi pembelajaran dan meminta masyarakat mempercayai agar sistem menjadi lebih baik lagi ke depan.

"Salah satu pelajaran politik atau pendidikan politik adalah bahwa pemilu merupakan mekanisme yang disepakati oleh rakyat Indonesia, oleh kita semua untuk memilih para pemimpin nasional.dan wakil rakyat yang akan membawa bahtera Republik Indonesia untuk lima tahun ke depan. Ketika para pemimpin sudah terpilih dan wakil rakyat sudah terpilih mari kita bersatu kembali. Kita singkirkan perbedaan pilihan politik dan kita bangun negara ini bersama-sama," kata Hadi.

Hadi juga meminta untuk mempercayakan hasil pemilu kepada penyelenggara pemilu yang bekerja berdasarkan udang-undang yang telah disepakati bersama.

Hadi menyampaikan meski TNI-Polri tidak turut aktif dalam berpolitik praktis. Namun ia menegaskan keluarga dan prajurit TNI-Polri harus memiliki kesadaran berdemokrasi dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto bersama dengan Kapolri Jendral Tito Karnavian secara simbolik, memberikan tali asih kepada 400 anak yatim dan 80 warakawuri. Pemberian tali asih tersebut diberikan sebelum pelaksaan salat isya dan tarawih.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed