Berdakwah Dengan Kearifan Lokal Ala Moh. Nurul Huda

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Rabu, 08 Mei 2019 04:23 WIB
Moh Nurul Huda (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Tugas pendakwah adalah menyampaikan kebenaran. Para dai pun memiliki beragam cara mensyiarkan ajaran Islam. Tujuannya agar komunikasi berjalan efektif. Ini seperti dilakukan DR Moh. Nurul Huda (51).

Penceramah sekaligus Kepala Kantor Kemenag itu punya cara tersendiri. Ulama yang tak pernah lepas kopiah ini memilih pendekatan kearifan lokal untuk menyampaikan syiar kepada jemaah.

"Bagi saya syiar Islam tidak boleh mengesampingkan kearifan lokal. Apalagi tiap wilayah di Pacitan ini kaya tradisi, budaya, serta istilah," ucap Huda ditemui detikcom, Rabu (8/5/2019).

Naik turun podium sejak muda membuat Huda matang pengalaman. Tak hanya jalanan mulus beraspal, medan bergunung hingga dasar ngarai pun sudah dia lalui. Tak lupa aneka tradisi dan istilah dia pelajari.


Suami dari Kun Haniah Masruroh ini menapaki karir di Kemenag sejak tahun 2000. Tugas pertamanya adalah mengajar di SD Kledung, Kecamatan Bandar. Sebuah desa berjarak 40 kilometer arah utara ibu kota Kabupaten Pacitan. Medannya sangat menantang.

Sebagai insan pendidik, Huda merupakan sosok kutu buku. Tak hanya buku agama, sejumlah referensi ilmu pengetahuan umum pun dia lahap. Nalurinya, memaksa bapak empat anak tersebut terus mengisi otak dengan ilmu-ilmu baru.

"Salah satu cara meng-upgrade pengetahuan adalah dengan membaca. Oleh karena itu tiap mau memberikan ceramah saya usahakan membaca buku. Buku apapun yang berkaitan dengan tema," paparnya.

Bulan Ramadan menjadi saat sibuk bagi penyandang gelar doktor bidang Manajemen Pendidikan ini. Ini karena padatnya jadwal ceramah dari satu tempat ke tempat lain. Bukan saja di masjid, namun juga siaran dakwah di media massa.


Huda pun berbagi kiat sederhana. Beribadah, kata dia, semestinya ditempatkan sebagai kebutuhan. Dengan begitu tak akan muncul keterpaksaan apalagi keberatan. Terlebih jika menyadari besarnya pahala yang dijanjikan Allah di bulan suci ini.

"Kalau tidak makan dan minum, maka kita merasa lapar. Sebab itu merupakan kebutuhan. Sama halnya ibadah. Jika kita menganggapnya kebutuhan pasti ada yang kurang jika belum menunaikannya," tuturnya saat hendak memberi tausiyah di salah satu radio. (fat/iwd)