detikNews
Jumat 03 Mei 2019, 16:05 WIB

Kelelahan Hingga Darah Tinggi Kambuh, Ketua KPPS di Mojokerto Meninggal

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kelelahan Hingga Darah Tinggi Kambuh, Ketua KPPS di Mojokerto Meninggal Subarji dan istri (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Ketua KPPS TPS 07 Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Subarji (54) meninggal akibat penyakit darah tingginya kambuh. Dia menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.

Hingga siang ini kerabat Subarji masih berdatangan ke rumah duka di Sumolepen gang Sawah No 20, Kelurahan Balongsari. Sang istri Winarni (57) terlihat sibuk menyambut para tamu yang berdatangan. Sebuah tenda masih terpasang di depan rumah duka untuk persiapan acara tahlil malam nanti.

Winarni mengatakan, suaminya meninggal Kamis (2/5) sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu Subarji dalam perjalanan dibawa ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto menggunakan ambulans.

"Bapak mengeluh sakit di kepala dan sesak nafas. Almarhum punya sakit darah tinggi," kata Winarni kepada wartawan di rumah duka, Jumat (3/5/2019).


Sebelum meninggal, Subarji bertugas sebagai Ketua KPPS di TPS 07 Kelurahan Balongsari. Menurut Winarni, sejak pensiun dari pegawai pabrik, suaminya telah 4 kali bertugas sebagai penyelenggara Pemilu. Subarji juga aktif di berbagai kegiatan lingkungan tempat tinggalnya. Sehari-hari almarhum berjualan sembako di rumahnya.

"Bapak selalu menjadi ketua KPPS, baik saat Pemilu maupun Pilkada. Sudah empat kali," ujarnya.

Subarji sudah setahun lebih mengidap sakit darah tinggi. Kakek dua cucu ini rutin meminum obat yang didapatkan dari puskesmas di dekat rumahnya. Oleh sebab itu, dia masih sanggup menunaikan tugasnya di TPS 07 pada Pemilu 17 April yang lalu.

Sebagai Ketua KPPS, lanjut Winarni, Subarji sibuk menyiapkan pemungutan suara sejak 16 April 2019. Mulai dari menata TPS yang menempati gedung pertemuan S Ramelan, hingga membuat seragam batik untuk petugas KPPS.

"Karena hari itu ada kunjungan Bu Khofifah (Gubernur Jatim) di TPS tersebut, bapak melalukan persiapan sejak tanggal 16 sore. Saat itu bapak mengeluh lelah karena pulang malam," terangnya.

Kendati begitu, Subarji tetap bertugas menyelenggarakan pemungutan suara keesokan harinya. Pria bertubuh tambun itu berangkat dari rumahnya sejak pukul 05.30 WIB.

"Pada 17 April selepas magrib bapak sempat pingsan karena kelelahan. Saat itu proses penghitungan suara belum selesai," ungkap Winarni.

Meski sempat pingsan, kata Winarni, suaminya masih melanjutkan tugasnya untuk menghitung perolehan suara Pileg dan Pilpres di TPS 07 Kelurahan Balongsari. Menurut dia, Subarji tak sempat ditangani oleh petugas medis. Almarhum hanya istirahat sejenak, lalu melanjutkan tugasnya sambil duduk. Bahkan, Subarji baru pulang dari bertugas Kamis (18/4) sekitar pukul 03.00 WIB.


"Saat pulang itu bapak mengeluh kelelahan, sambil bilang kalau tidak mau lagi menjadi petugas KPPS," jelasnya.

Setelah sempat tidur, 18 April 2019 Subarji memeriksakan kesehatannya ke puskesmas di dekat tempat tinggalnya. Menurut Winarni, rupanya tekanan darah suaminya sedang tinggi. Subarji pun meminum obat yang dia dapatkan dari puskesmas tersebut.

Sekitar 15 hari setelahnya, kondisi kesehatan Subarji memburuk. Sebelum meninggal, dia sempat mengeluh sakit kepala dan sesak nafas. Nyawanya tak tertolong saat keluarga membawanya ke rumah sakit.

Jenazah Subarji telah dimakamkan di TPU Losari, Kamis (2/5). Wali Kota dan KPU Kota Mojokerto sempat bertakziah ke rumahnya. Namun, sampai saat ini pihak keluarga belum mendapatkan santunan dari Gubernur Jatim.

"Santunan dari Gubernur belum ada," tandas Winarni.


Saksikan juga video 'Analisis KPU Soal Penyebab Anggota KPPS Bertumbangan':

[Gambas:Video 20detik]


(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed