DetikNews
Rabu 17 April 2019, 13:22 WIB

Pasien RS Jiwa Menur Surabaya Tak Ketinggalan Gunakan Hak Pilihnya

Hilda Meilisa - detikNews
Pasien RS Jiwa Menur Surabaya Tak Ketinggalan Gunakan Hak Pilihnya Pasien RSJ Menur nyoblos/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Surabaya - 7 Pasien RS Jiwa Menur Surabaya ikut meramaikan pesta demokrasi 2019. Mereka menggunakan hak suaranya dalam memilih calon legislatif hingga calon presiden.

Mereka pasien rawat inap dan pasien napza atau tahanan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif di RSJ Menur Surabaya.

"Ada tujuh yang menggunakan hak pilihnya, yaitu pasien RSJ dari Nafzah," kata Anggota KPU Surabaya Rubiyan Arifin di RSJ Menur Surabaya, Rabu (17/4/2019).

Sementara di RSJ Menur memang tak menyediakan TPS. Namun, petugas TPS 01 Gubeng Surabaya memang sengaja mendatangi untuk menghimpun suara para pasien.

Pencoblosan pun berlangsung sederhana, lima kotak suara yang dibuat dari kardus bekas minuman kemasan dijajar sesuai warnanya. Sementara untuk bilik suara, menggunakan tirai putih dengan sebuah meja yang terdapat bantalan dan paku untuk mencoblos.


Sebelum memasuki bilik, para pasien didampingi para psikiaternya. Namun, di dalam bilik, para pasien bebas menyalurkan suaranya.

"Kalau dalam penyelenggaran pemilu ini sebetulnya sama, hanya mungkin perlakuannya yang berbeda karena dia itu sakit atau tahanan jadi harus didatangi oleh petugas. Karena mereka tak mungkin mendatangi TPS, Kita yang kemudian mendatangi ke rumah sakit tempat tahanan atau warga yang ditahan di Polres, di Lapas dan sebagainya," imbuh Rubiyan.

Sementara Kepala Bidang Penunjang Medik yang sekaligus Anggota Komite Etik dan Hukum RSJ Menur, dr Yulius Effendi Sp.Kj mengatakan tujuh pasien yang berkesempatan untuk mencoblos ini berdasarkan seleksi yang cukup ketat.

Dari 200-an pasien di RSJ Menur, awalnya diseleksi sesuai administratifnya. Misalnya yang memiliki KTP dan terdaftar di DPT. Namun, banyak pasien dari luar kota Surabaya yang tidak memiliki KTP atau KTPnya dipegang keluarga.

Setelah itu, terpilih 65 orang yang memenuhi syarat. 65 orang ini diseleksi lagi sesuai dengan tiga syarat yakni fungsi kognitif yang dilihat dari fungsi akalnya yang masih baik, kedua tidak agresif atau berbahaya, dan ketiga berperilaku sesuai norma di masyarakat.

"Dari sejumlah 200 ini terseleksi tinggal 65, dari 65 lantas sesuai arahan dari PDSKJI, Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, maka ada syaratnya bisa memadai untuk mencoblos itu," paparnya.

Usai itu, dari 65 pasien akhirnya diseleksi tinggal 34 pasien kemudian pada hari H tinggal hanya 7 yang memenuhi syarat.

"Akhirnya yang disepakati yang memenuhi syarat tinggal tujuh, tujuh yang memiliki kesempatan, yang memiliki peluang. Ada yang gangguan jiwa ada yang napsa. Kalau napsa fungsi kognitifnya kan masih bagus," pungkas Yulius.


Simak Juga 'Antusias Milenial Nyoblos di TPS Ditemani Pocong':

[Gambas:Video 20detik]


(hil/fat)
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed