Longsor Ancam Rumah Penduduk di Kaki Gunung Wilis Tulungagung

Adhar Muttaqin - detikNews
Senin, 08 Apr 2019 13:44 WIB
Longsor Ancam Rumah Penduduk di Tulungagung/Foto: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Bencana longsor terjadi di perkampungan kaki Gunung Wilis Tulungagung. Akibatnya akses jalan desa putus dan mengancam sejumlah rumah penduduk.

Kepala Dusun Tumpakweru, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Agus Setiawan, mengatakan jalan desa yang menjadi akses utama warga longsor ke dalam lereng sedalam 75 meter. Akibatnya, jalur terputus dan mengancam tujuh rumah penduduk di sekitarnya.

"Kalau untuk tanda-tanda longsor sudah kelihatan sekitar satu bulan lalu, terjadi retakan-retakan tanah. Namun puncaknya kemarin (MInggusore, setelah hujan deras tiba-tiba jalan ambrol. Beruntung tidak ada korban," kata Agus Setiawan, Senin (8/4/2019).

Dia menjelaskan, kejadian tanah longsor tersebut mengancam tujuh rumah penduduk yang ada di sekitarnya. Yakni, rumah milik Pait, Wari, Suwarno, Tuni, Nunik, Mujani dan Agus. Dari tujuh rumah tersebut terdapat satu rumah yang berjarak hanya empat meter dari titik longsor.

"Yang jaraknya hanya empat meter itu milik Pak Pait, sedangkan jarak 15 meter milik Pak Wari, Pak Suwarno dan Bu Tuni, sedangkan di atas titik longsor itu milik Pak Agus, Nunik Nunik dan Mujadi. Untuk sekarang masih aman, namun rawan," ujarnya.


Pihaknya meminta warga untuk waspada dan mengungsi ke tempat yang lebih aman saat terjadi hujan. Sebab, dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan.

"Kalau untuk jalan desa sudah terputus total, namun saat ini kami alihkan ke sampingnya, sehingga bisa kembali dilalui oleh warga sekitar," imbuhnya.

Agus mengaku, kondisi lokasi bencana longsor tersebut memiliki kemiringan tanah lebih dari 45 derajat. Selain itu struktur tanah yang gembur ikut mempercepat longsor.

"Sebetulnya kalau tegakannya banyak, ada pohon sengon, kelapa dan kayu-kayu lainnya. Selain itu usia kayu juga sudah tua," imbuh Agus.

Di sisi lain Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Soeroto, meminta masyarakat sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan, terlebih pada saat hujan deras. Sedangkan terkait langkah penanganan, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

"Karena ini tidak bisa kalau hanya di tangani dengan dana tanggap darurat, namun harus dibangun plengsengan secara permanen dan itu kewenangan dari PUPR," kata Soeroto. (fat/fat)