Di Ponorogo, Limbah Akrilik Disulap Jadi Lampu Tidur dan Diekspor

Charolin Pebrianti - detikNews
Kamis, 04 Apr 2019 09:04 WIB
Reiner dan Bayu pengelola limbah akrilik/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Perajin di Ponorogo Reiner Junge (31) menyulap limbah akrilik menjadi barang bernilai. Seperti vandel, gantungan kunci, piala, serta lampu tidur hias yang sudah sampai ke Singapura, Hongkong dan Taiwan

Akrilik merupakan plastik yang bentuknya menyerupai kaca. Namun akrilik sedikit lentur dan tidak mudah pecah

Reiner memiliki puluhan limbah akrilik untuk diolah. Sejumlah alat kerja telah ia miliki untuk menyulap limbah tersebut menjadi barang yang lebih bernilai. Seperti gerinda, gergaji mesin, bor, alat las portabel dan alat bending dan alat pemanas untuk membentuk akrilik sesuai keinginan.

"Begini cara buat vandel, harus diolah semuanya dengan hati-hati," kata Reiner saat ditemui detikcom, Kamis (4/4/2019).


Ayah satu anak itu melanjutkan keindahan vandel, gantungan kunci, piala, serta lampu hias buatannya dari bahan akrilik tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena selama proses pengerjaan dilakukan secara hati-hati dan menggunakan alat profesional.

Awalnya, sang rekan Bayu Eko menggunakan akrilik untuk membuat visor. Kala itu sisa bahan banyak yang terbuang. Melihat limbah-limbah akrilik tersebut, Reiner mencoba menyulapnya menjadi barang bernilai.

Ia mulai mencoba mengolah limbah-limbah tersebut sejak 2014. Setelah sering melakukan percobaan, akhirnya Reiner menemukan formulanya.

Ketekunan mengantarkan Reiner dan Bayu menjadi perajin akrilik yang profesional. Mulanya, pesanan hanya datang dari para tetangga, teman dan kerabat. Itu pun hanya pada momentum tertentu saja.


Tempat kerja mereka yang hanya berukuran 16 meter persegi di Jalan Parang Centung, Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Babadan, Ponorogo turut menjadi saksi. Pesanan kemudian meningkat, tak jarang barang buatan mereka dibawa ke luar negeri seperti Singapura, Taiwan dan Hongkong.

Dalam dua hari Reiner mampu membuat 50 buah gantungan kunci dengan harga Rp 5 ribu per biji. "Harus dua hari karena butuh pengeringan saat penempelan stiker dan pengecatan di gantungan kuncinya," ujarnya.

Saat ini ia mengaku kesulitan melayani pesanan lampu hias dan beberapa vandel yang membutuhkan ukiran lebih detail. Itu karena untuk membuat detail yang halus harus menggunakan mesin laser yang harganya bisa mencapai ratusan juta.

"Kalau hanya membuat ukiran huruf atau bentuk yang besar masih bisa, tapi jika sudah berbentuk wajah atau tokoh harus kita lempar ke percetakan. Meski sudah era digital akan tetapi pelanggan kami lebih banyak tahu dari mulut ke mulut, kebanyakan adalah teman-teman komunitas," tambahnya.


Sementara Bayu menuturkan, dalam sehari ia bisa membuat 20 visor berbagai ukuran jika memang permintaan sedang banyak. Saat ini ia selalu menyiapkan stok visor berbagai ukuran dan bentuk untuk semua merek sepeda motor.

Visor buatan Bayu dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari yang paling kecil seharga Rp 80 ribu sampai yang paling besar Rp 250 ribu.

"Untuk bahan baku saya ambil dari Madiun dan Solo, karena di sana ketebalan dari akrilik lebih banyak variasinya," pungkasnya. (sun/bdh)