Data dari Dinkes Ponorogo jumlah pengidap HIV AIDS tahun 2016 ada 100 orang, tahun 2017 ada 134 orang dan tahun 2018 hingga bulan Oktober ada 78 orang.
"Ponorogo melakukan deteksi sehingga kita berupaya menemukan penderita HIV di masyarakat, supaya kita bisa mengobati agar tidak menular ke masyarakat yang lain," tutur Kadinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini saat ditemui detikcom di kantornya, Jalan Basuki Rahmat, Rabu (3/4/2019).
Irin sapaannya menambahkan deteksi penderita HIV dilakukan dengan berbagai cara. Seperti ibu hamil yang diwajibkan test HIV, saat donor darah, saat masyarakat sakit dan melakukan uji lab darah serta ada masyarakat yang dengan kesadaran sendiri test HIV terutama untuk populasi kunci (PSK, LGBT dan waria).
"Dari kebanyakan pasien HIV rata-rata usia 30-50 tahun," jelasnya.
Menurutnya, dengan adanya deteksi dini diharapkan masyarakat sadar dan mau berobat secara teratur selama seumur hidup.
"Di Ponorogo sudah disediakan obat antiretroviral dan ini harus dikonsumsi seumur hidup," papar dia.
Bagi pasien HIV, lanjut Irin, pihaknya menyediakan obat antiretroviral secara gratis. Obat ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
"Kami mengimbau masyarakat agar hidup secara sehat terutama perilaku kehidupan sehat melakukan seks pada satu pasangam dan setia pada satu pasangan. Sosialisasi juga kalau ada warga yang menderita HIV agar tidak dikucilkan. Sebab, penularan HIV hanya dari cairan tubuh seperti hubungan seks, penggunaan jarum suntik bersama, hamil dan menyusui serta transfusi darah," pungkas dia. (fat/fat)











































